“Presidensi Indonesia akan mengedepankan pembangunan kepercayaan, penguatan dialog lintas kawasan, serta keterlibatan konstruktif seluruh pemangku kepentingan,” ucapnya.
Mereka punya tagline untuk itu: “A Presidency for All.” Sebuah presidensi untuk semua. Gagasan besarnya adalah memperkuat konsensus, meningkatkan efektivitas kerja, dan tentu saja, menjaga kredibilitas dewan di panggung multilateral.
Jalan menuju posisi ini dimulai dari tingkat kawasan. Indonesia terlebih dahulu dipilih oleh negara-negara anggota Asia-Pacific Group (APG) melalui mekanisme pemilihan internal. Kepercayaan itu, kata Kemlu, bukan datang tiba-tiba. Rekam jejak Indonesia di isu HAM tingkat internasional jadi pertimbangan utama.
Sebenarnya, Jakarta bukan pemain baru di arena ini. Catatannya cukup panjang: enam kali menjadi anggota, pernah dua kali menduduki posisi Wakil Presiden dipegang Dubes Dian Triansyah Djani (2009) dan Dubes Febrian A. Ruddyard (2024). Bahkan lebih jauh ke belakang, Indonesia juga pernah memimpin Komisi HAM PBB, lembaga pendahulu dewan sekarang, lewat Dubes Makarim Wibisono di tahun 2005.
Jadi, tahun 2026 nanti bukan sekadar soal jabatan. Ini tentang melanjutkan peran, membawa beban sejarah, dan tentu saja, memenuhi harapan yang disematkan banyak pihak.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam Operasi OTT
KPK Periksa Belasan Pejabat Tulungagung Usai OTT Bupati
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam Operasi di Jatim
Siswa Tewas Usai Senapan Rakitan Meledak Saat Ujian Praktik di Siak