Langkah AS ternyata lebih luas dari sekadar PBB. Mereka juga menarik diri dari organisasi lain semacam International Institute for Democracy and Electoral Assistance dan Global Counterterrorism Forum. Ini menunjukkan bahwa kebijakannya bersifat menyeluruh.
Semua ini terjadi di tengah rentetan aksi luar negeri Washington yang terbilang agresif belakangan ini. Mulai dari upaya penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, isu rencana mengambil alih Greenland, sampai penyitaan dua kapal tanker minyak Venezuela pada hari yang sama. Polanya jelas: Trump konsisten dengan pendekatan unilateralnya.
Memang, ini bukan kali pertama. Sebelumnya, AS sudah hengkang dari WHO, UNRWA, Dewan HAM PBB, dan UNESCO. Pola kebijakan yang berulang ini menegaskan arah politik luar negeri mereka.
Bagi Daniel Forti dari International Crisis Group, perubahan sikap AS ini sangat signifikan.
“Pendekatan yang muncul adalah ‘cara kami atau tidak sama sekali’,” katanya, menggambarkan betapa AS kini memilih jalan sendiri dalam hubungan internasional.
Di sisi lain, para pakar iklim khawatir. Keluarnya AS dari forum-forum kerja sama iklim global, seperti dilaporkan AP News, berisiko besar melemahkan upaya kolektif menekan emisi. Padahal, AS adalah salah satu penyumbang emisi terbesar di dunia. Tanpa partisipasi penuh mereka, upaya menghadapi krisis iklim global dipastikan akan jauh lebih berat.
Artikel Terkait
Saat Pejabat Berani Buka Diri, Koruptor Cemas dan Tersipu
Eropa Berang, Hubungan Transatlantik Memasuki Zaman Es
Jaringan Judi Online Diduga Dalangi Fitnah terhadap SBY
Kritik Satir Pandji Picu Demo, Wartawan Soroti Kemarahan Pesanan