Senjata Canggih Venezuela Hanya Pajangan, Kekuatan Sejati Ada di Profesionalisme

- Kamis, 08 Januari 2026 | 05:40 WIB
Senjata Canggih Venezuela Hanya Pajangan, Kekuatan Sejati Ada di Profesionalisme

Senjata Canggih Tapi Tentara Tak Terlatih: Dilema Militer Venezuela

Kalau kita lihat katalog persenjataan global, Venezuela sering disebut punya sistem militer paling mutakhir di Amerika Latin. Nama-nama besar seperti sistem pertahanan udara S-300VM, Buk-M2E, jet tempur generasi lanjut, hingga radar dan sistem komando yang diklaim setara negara maju, semuanya ada di sana.

Di atas kertas, kekuatannya terlihat mengesankan. Seolah siap menghadapi segala ancaman dari luar. Tapi, sejarah punya cerita lain. Senjata secanggih apapun tak akan pernah bertempur sendirian.

Krisis terbaru di negara itu memunculkan komentar pedas dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth. Ucapannya seperti membuka tabir, membeberkan jurang lebar antara kapabilitas di atas kertas dan kenyataan di lapangan.

Hegseth menyebut sistem pertahanan udara Venezuela yang didominasi teknologi Rusia ternyata tak berfungsi maksimal ketika berhadapan dengan operasi militer Amerika Serikat.

Soalnya apa? Bukan alatnya yang jelek. Tapi, tentaranya sendiri yang tak terlatih menggunakannya.

Maklum, di era sekarang senjata sudah pakai sistem elektronik rumit. Di sini, profesionalisme personel jauh lebih menentukan ketimbang sekadar kecanggihan besi. Intinya, masalah utama militer Venezuela bukan kurang senjata, melainkan kurangnya profesionalisme operasional.

Ada sindiran kasar yang beredar di kalangan analis regional: “Dari sepuluh tentara Venezuela, sembilan tidak benar-benar paham cara mengoperasikan sistemnya. Yang satu paham, tapi latihannya tidak konsisten.” Mungkin ini berlebihan, tapi secara struktur, sindiran itu nyaris tepat.

Teknologi Tinggi, Tapi Tanpa Ekosistem

Sistem seperti S-300 atau Buk itu bukan cuma peluncur rudal biasa. Ia butuh operator radar yang terlatih, integrasi komando dan kontrol yang mulus, perawatan presisi, plus latihan rutin dengan skenario tempur nyata. Tanpa semua itu, sistem pertahanan udara cuma jadi monumen mahal yang berdiri tanpa nyawa.

Dihantam Krisis dan Sanksi

Krisis ekonomi Venezuela menghantam segala hal: jam terbang latihan, ketersediaan suku cadang, sampai insentif bagi prajurit. Militer yang tak dilatih berkelanjutan akan kehilangan refleks tempurnya. Padahal dalam perang modern, hitungan detik dan disiplin tim lebih penting daripada jumlah peluncur.

Samuel P. Huntington dalam bukunya yang klasik, The Soldier and the State, sudah menegaskan soal tiga pilar profesionalisme militer.


Halaman:

Komentar