Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah

- Kamis, 08 Januari 2026 | 03:00 WIB
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah

Tapi bagaimana aku bisa berdiri tegak jadi pandu bagimu, kalau tanah yang kupijak dijual petak demi petak oleh mereka yang bersumpah setia di atas kitab suci? Darah yang tumpah sekarang bukan darah pahlawan lagi. Itu darah harapan yang tercecer di lantai birokrasi, licin oleh intrik.

Aku jadi pandu bagi kapal yang nakhodanya sibuk melubangi lambungnya sendiri. Katanya, kapal itu tetap berlayar karena grafik ekonomi menanjak. Tapi aku tahu. Di bawah garis air, kebocoran sudah merendam ruang-ruang kehidupan. Setiap tepuk tangan di forum internasional dibayar dengan kesunyian desa-desa yang kehilangan tanah, laut, dan masa depan.

Di tengah semua ini, aku diajari berdoa agar Indonesia bahagia. Sebuah doa yang sekarang terdengar seperti satire yang getir. Bagaimana mungkin kebahagiaan tumbuh di tanah yang kesuburannya cuma dinikmati segelintir tuan tanah? Mereka bersembunyi di balik pasal-pasal regulasi. Kebahagiaan sudah jadi barang mewah, cuma terjangkau oleh mereka yang punya akses ke lingkaran kekuasaan. Rakyat cuma diminta bersabar. Seolah-olah kesabaran bisa menggantikan makan malam.

Janji tentang Indonesia yang mulia pelan-pelan berubah jadi mimpi buruk di siang bolong.

Kita bersumpah menjaga tanah yang sakti dan jaya. Tapi kesaktian itu runtuh ketika hukum bisa dibeli seperti kudapan murah. Kejayaan terdengar kosong saat anak-anak belajar di ruang kelas yang nyaris roboh, sementara para pejabat membangun dinasti dari tumpukan suap.

Putra-putrimu yang paling berani dibungkam. Rakyatmu yang paling jujur disingkirkan. Semua agar panggung tetap lapang bagi para penjilat kekuasaan.

Keletihanku memuncak saat menatap wajah pemimpin yang kuberi amanah. Dia aktor yang sempurna. Tahu kapan harus tersenyum, kapan suaranya harus bergetar saat bilang siap mati demi rakyat.

Kata-kata itu dulu bikin aku terharu. Sekarang, ia terdengar seperti dialog usang dari drama yang terlalu lama dipentaskan. Sebab ketika rakyat benar-benar mati di stadion, di tambang, di jalanan yang dipenuhi gas air mata dia tidak sedang bersiap mati. Dia sedang menyusun alibi.

Dengan dingin, nyawa disebut sebagai ‘risiko pembangunan’. Sebuah kalimat yang mereduksi manusia jadi angka. Darah jadi pelumas mesin ekonomi.

Pemimpin yang mengaku siap mati itu ternyata cuma siap membiarkan rakyatnya mati. Asal proyek berjalan dan kekuasaannya tetap lestari. Infrastruktur fisik dibangun megah. Sementara infrastruktur moral bangsa diruntuhkan secara sistematis.

Aku benar-benar lelah, Indonesia. Kau tetap cantik dalam kehancuranmu. Tetap memesona dalam toksisitasmu.

Aku ingin pergi. Tapi akarku sudah terhunjam terlampau dalam. Aku terjebak dalam hubungan yang abusive. Dipukul oleh kebijakan, lalu diminta mencium tangan saat lagu kebangsaan dikumandangkan.

Kau terus ingatkan aku pada kejayaan masa lalu. Seolah-olah nostalgia bisa mengenyangkan perut hari ini.

Mencintaimu sudah jadi tindakan masokis yang dilembagakan. Aku menyerahkan hidupku, tapi cuma diingat saat suaraku dibutuhkan. Selebihnya, aku disingkirkan dengan rapi oleh ujung pena kebijakan.

Indonesia, kau adalah rumah yang kusayangi. Tapi mengapa aku dibiarkan menggigil di teras, sementara para pencuri tidur nyenyak di kamarmu sendiri?

Saat beranjak ke peraduan, ada gumam yang lirih.


Halaman:

Komentar