Heboh Video Bocil Block Blast: Penasaran yang Dijebak Phishing

- Rabu, 07 Januari 2026 | 23:50 WIB
Heboh Video Bocil Block Blast: Penasaran yang Dijebak Phishing

Heboh lagi. Beberapa hari belakangan, media sosial kembali riuh dengan pencarian "link video bocil Block Blast viral". Rasa penasaran kolektif itu, seperti biasa, menyebar lebih cepat dari kabar burung melalui TikTok, X, hingga grup-grup chat yang jumlahnya tak terhitung. Narasinya simpel: ada video 'asli' yang belum banyak dilihat. Tapi, benarkah?

Yang terjadi justru sebaliknya. Dari sekian banyak unggahan yang beredar, hampir semuanya cuma rekaman biasa. Anak-anak main game Block Blast di ponsel, video editan, atau cuplikan lama yang dibungkus dengan judul provokatif. Intinya, tidak ada yang spesial.

Menurut penelusuran Asatunews pada Rabu (7/1/2026), tidak satu pun materi yang bisa diklaim sebagai rekaman asli sesuai yang dihebohkan. Tidak ada konfirmasi dari pihak berwenang, tidak ada pernyataan resmi dari platform mana pun. Nihil.

Ini pola lama, sebenarnya. Sebuah narasi diulang-ulang sampai akhirnya dianggap fakta, meski dasarnya cuma angin. Sosok "bocil" yang dimaksud pun tak pernah jelas juntrungnya. Siapa dia? Di mana? Tidak ada yang tahu. Yang ada cuma teka-teki tanpa jawaban.

Nah, di balik rasa penasaran itu, bahayanya justru nyata. Banyak tautan yang dibagikan malah menjerumuskan. Alih-alih mendapatkan video, pengguna justru diarahkan ke situs aneh, iklan berlapis, atau diminta login dengan akun media sosial. Modusnya klasik: phishing.

Tujuannya jelas, mencuri data. Email, kata sandi, akses ke akun-akun digital Anda. Lebih gawat lagi, beberapa link meminta pengunduhan aplikasi di luar toko resmi. Ini pintu masuk bagi malware atau software berbahaya yang bisa menyusup diam-diam ke perangkat.

Kalau sudah begini, risikonya berantai. Satu akun yang berhasil diretas bisa dipakai untuk menyebar link serupa ke kontak-kontak korban. Penyebarannya jadi makin liar dan makin sulit dikendalikan.

Para pegiat literasi digital sudah sering mengingatkan. Fenomena seperti ini bukan barang baru. Hanya objek viralnya yang berganti, dari isu yang satu ke isu lainnya, sementara mekanisme jebakannya tetap sama: memanfaatkan ketidaktahuan dan algoritma media sosial.

Jadi, bagaimana sebaiknya? Hati-hati. Selalu curiga ketika menemui klaim yang bombastis tapi tanpa sumber jelas. Jangan mudah klik link yang dibagikan dari akun tidak dikenal. Dan yang paling penting, jangan ikut-ikutan menyebarkan.

Gunakan fitur pelaporan jika menemui konten mencurigakan. Langkah kecil itu bisa membantu memutus mata rantai penyebaran.

Pada akhirnya, kasus "link video bocil Block Blast" ini cermin buram ruang digital kita. Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk memilah dan memilih bukan lagi sekadar keahlian, tapi kebutuhan dasar. Jangan sampai rasa penasaran justru membuka pintu bagi masalah yang lebih serius.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar