Kalau sudah begini, risikonya berantai. Satu akun yang berhasil diretas bisa dipakai untuk menyebar link serupa ke kontak-kontak korban. Penyebarannya jadi makin liar dan makin sulit dikendalikan.
Para pegiat literasi digital sudah sering mengingatkan. Fenomena seperti ini bukan barang baru. Hanya objek viralnya yang berganti, dari isu yang satu ke isu lainnya, sementara mekanisme jebakannya tetap sama: memanfaatkan ketidaktahuan dan algoritma media sosial.
Jadi, bagaimana sebaiknya? Hati-hati. Selalu curiga ketika menemui klaim yang bombastis tapi tanpa sumber jelas. Jangan mudah klik link yang dibagikan dari akun tidak dikenal. Dan yang paling penting, jangan ikut-ikutan menyebarkan.
Gunakan fitur pelaporan jika menemui konten mencurigakan. Langkah kecil itu bisa membantu memutus mata rantai penyebaran.
Pada akhirnya, kasus "link video bocil Block Blast" ini cermin buram ruang digital kita. Di tengah banjir informasi, kemampuan untuk memilah dan memilih bukan lagi sekadar keahlian, tapi kebutuhan dasar. Jangan sampai rasa penasaran justru membuka pintu bagi masalah yang lebih serius.
Artikel Terkait
Kemensos Siapkan Pendamping Bersertifikat untuk Program Makanan Lansia dan Disabilitas
Rudal Rusia Hantam Lviv, Ancaman Hipersonik Mengintai Perbatasan NATO
Penangkapan Maduro: Saat Hukum AS Menjadi Senjata Perang Baru
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar