“Contohnya begini,” ia mencoba menggambarkan. “Orang bisa berkata di Indonesia, ‘Hidup saya berat, gaji pas-pasan, capek, tapi ini sudah jalan Tuhan dan saya harus bertanggung jawab pada keluarga’. Itu yang terjadi. Makna hidup orang Indonesia lebih tinggi, tapi bukan berarti lebih bahagia.”
Karena itu, CELIOS menegaskan kembali bahwa pidato tersebut keliru. Askar bahkan menyoroti kemungkinan kesalahan pada tim penyusun naskah.
“Saya enggak tahu siapa yang membuatkan teks pidato Prabowo, tapi silakan dicek kembali studinya. Keliru dibaca oleh pemerintah, yang bikin teks pidatonya salah,” paparnya.
“Karena itu hanya salah satu dari enam komponen dalam ‘flourishing’. Kalau kita lihat happiness-nya, yang paling tinggi justru Jepang,” tambahnya.
Di akhir penjelasannya, Askar mengingatkan agar semua pihak lebih cermat. Kekhawatirannya, data yang salah baca ini bisa berakibat buruk.
“Saya enggak bilang ini menggugurkan argumen soal bagaimana orang Indonesia hidupnya lebih bermakna. Tetapi memang kita harus lebih hati-hati membaca data,” katanya.
“Saya khawatir data ini justru digunakan untuk kita kemudian melupakan persoalan struktural di negeri ini.”
Artikel Terkait
Amnesty International: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Berpola dan Terencana
PSIM Yogyakarta Hadapi PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Susunan Pemain Kedua Tim Diumumkan
Legenda PSM Syamsuddin Umar Khawatirkan Ancaman Degradasi Klub
Menteri Keuangan Tolak Proyeksi Bank Dunia, Sebut Pertumbuhan RI 2026 Bisa Tembus 5%