Ia bercerita, air datang begitu cepat. Rumahnya yang berada di bantaran anak Sungai Martapura tak punya daya. Dalam sekejap, segalanya terendam. Mereka pun memutuskan mengungsi untuk menyelamatkan diri.
“Kerjaan saya setiap hari memetik bunga melati, namun selama banjir ini saya tidak bisa bekerja. Bahan kebun bunganya pun terendam,” keluhnya.
Harapannya sederhana: air cepat surut. Sebab, selama banjir berlangsung, seluruh aktivitas warga nyaris lumpuh total.
Ruang Kelas pun Tak Luput
Bencana ini tak hanya menerjang permukiman. Dunia pendidikan juga menjadi korban. Data terbaru dari Dinas Pendidikan setempat cukup mencengangkan: 210 satuan pendidikan terdampak banjir.
Rinciannya, ada 116 SD, 20 SMP, ditambah 74 satuan PAUD dan PKBM. Sebuah angka yang menggambarkan betapa parahnya situasi.
Kepala Disdik Banjar, Hj Liana Penny, memaparkan dampaknya. Dari total itu, 41 sekolah banjir hanya di halaman. Namun yang lebih memprihatinkan, 169 sekolah lainnya tergenang hingga masuk ke dalam ruang kelas. Belajar tatap muka? Mustahil dilakukan.
“Keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan menjadi prioritas utama,” jelas Liana Penny.
Karena itulah, untuk sekolah-sekolah yang terdampak berat, pembelajaran terpaksa dialihkan ke sistem jarak jauh atau PJJ. Sekali lagi, masa depan belajar anak-anak harus menunggu hingga air ini benar-benar surut.
Artikel Terkait
Penangkapan Maduro: Saat Hukum AS Menjadi Senjata Perang Baru
Duel Sengit di Coliseum: Getafe vs Real Sociedad Berebut Angin Segar
Nakhoda dan ABK Mesin KM Putri Sakinah Resmi Jadi Tersangka
Mensos: Sekolah Rakyat Tambah 200 Titik, Targetkan 45.000 Siswa pada 2027