Kudeta Senyap Venezuela: Saat Pengkhianatan Berasal dari Lingkar Istana

- Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00 WIB
Kudeta Senyap Venezuela: Saat Pengkhianatan Berasal dari Lingkar Istana

Ketiga, fragmentasi loyalitas di tubuh militer. Fakta bahwa AS bisa menangkap Maduro tanpa perlawanan punya dua kemungkinan besar: militer Venezuela memang sudah dilemahkan, atau ada 'lampu hijau' dari elite sipil di puncak. Dalam kedua skenario ini, peran wapres menjadi sangat krusial.

Meski begitu, beberapa analis lain punya sudut pandang berbeda. Tuduhan terhadap Delcy Rodríguez mungkin tak bisa disederhanakan sebagai pengkhianatan personal belaka. Bisa jadi dia hanya produk dari sebuah sistem kekuasaan yang sudah retak dari dalam. Dalam permainan geopolitik, yang namanya pengkhianatan seringkali bukan soal moral, tapi lebih pada kalkulasi untuk bertahan hidup secara politik. Saat sebuah rezim terisolasi, para elite di dalamnya akan mencari jalan paling aman untuk menyelamatkan diri.

tambah Amir Hamzah.

Dia menegaskan, Indonesia jangan merasa kebal dari skenario serupa. Sistem politik kita mungkin beda, tapi pelajarannya tetap relevan. Beberapa poin penting yang harus diingat: Pertama, loyalitas politik harus diperkuat secara struktural. Hubungan presiden dan wapres tidak boleh cuma berdasar kompromi politik saat pemilu, tapi harus dibangun di atas kesatuan visi strategis untuk keamanan nasional.

Kedua, ancaman tak selalu datang dari oposisi yang terang-terangan. Sejarah dunia menunjukkan, banyak pemimpin yang jatuh justru karena ulah lingkaran dalam kekuasaannya sendiri. Ketiga, badan intelijen negara harus melebarkan pengawasannya. Mereka tak cuma wajib memantau ancaman asing, tapi juga dinamika internal elite, termasuk potensi pembelotan karena tekanan global atau ambisi pribadi.

Pada akhirnya, kasus Venezuela memperkuat satu tesis: dunia sedang memasuki era 'kudeta senyap'. Tanpa tank di jalanan, tanpa pertumpahan darah, bahkan tanpa pengumuman resmi yang dramatis. Kekuasaan bisa berpindah lewat tekanan hukum internasional, operasi intelijen yang halus, dan tentu saja, fragmentasi di kalangan elite internal. Dalam skema seperti ini, wakil presiden seringkali menjadi aktor kunci; entah sebagai penyelamat stabilitas, atau justru sebagai pintu masuk bagi intervensi asing.

Amir Hamzah menegaskan, peringatannya ini bukan untuk menuduh siapa-siapa. Ini murni peringatan strategis.

tegasnya.

Kasus Venezuela adalah cermin yang keras. Di panggung geopolitik modern, pengkhianatan kerap bukan sekadar tindakan personal. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem kekuasaan yang rapuh, yang tak mampu menahan tekanan global. Dan bagi negara mana pun, kewaspadaan terhadap lingkaran terdekat bukanlah paranoia, melainkan bagian tak terpisahkan dari menjaga kedaulatan.


Halaman:

Komentar