Di sisi lain, rasa bersalah itu makin menjadi karena kita gemar membandingkan diri. Melihat orang lain tetap produktif di media sosial, misalnya, bikin kita merasa tertinggal saat memutuskan berhenti. Padahal, kita nggak tahu apa yang sebenarnya mereka korbankan untuk terlihat sibuk itu. Perbandingan semacam ini membuat jeda sejenak terasa seperti kegagalan pribadi.
Belajar beristirahat dengan tenang bukan berarti lari dari tanggung jawab. Justru sebaliknya. Dengan istirahat yang cukup, kita kembali dengan pikiran lebih jernih dan energi yang terisi ulang. Persoalannya sebenarnya bukan pada tindakan berhentinya, tapi pada cara kita memaknainya.
Mungkin yang perlu diubah bukan kebiasaan untuk berhenti, tapi sudut pandang kita terhadap 'berhenti' itu sendiri.
Istirahat bukan tanda kelemahan atau penyerahan. Ia justru adalah bukti bahwa kita mau mendengarkan tubuh dan pikiran kita sendiri.
Pada akhirnya, hidup ini bukan perlombaan untuk jadi yang paling sibuk. Dan istirahat sebenarnya bukan musuh dari pencapaian kecuali kalau kita sendiri yang terus menganggapnya demikian.
Artikel Terkait
Aceh Perpanjang Status Darurat Bencana untuk Ketiga Kalinya
Demo Bayaran Heboh, Pejabat Konoha Malah Santai Sindir Stand Up Pandji
Ketika Cinta Terasa Melelahkan: Mengurai Rasa Takut Kehilangan yang Diam-Diam Menggerogoti
Al-Quran dan Sains: Dusta Pejabat Bisa Picu Gangguan Kesehatan?