Kebingungan Karir Mahasiswa: Bukan Aib, Tapi Pintu Menuju Jalan Unik

- Rabu, 07 Januari 2026 | 01:06 WIB
Kebingungan Karir Mahasiswa: Bukan Aib, Tapi Pintu Menuju Jalan Unik

Halo, pejuang kampus! Kalau kamu baca judul ini dan merasa tersentil, coba tarik napas. Kamu nggak sendiri. Jauh dari itu. Perasaan galau, cemas, bingung mau kemana setelah lulus itu adalah sensasi yang dialami hampir semua mahasiswa, dari yang baru orientasi sampai yang lagi sibuk bikin skripsi.

Kita sering mengira, begitu masuk kuliah semua akan jelas. Nyatanya? Justru di sinilah petualangan pencarian jati diri yang sebenarnya dimulai. Dan seringkali, kebingungan itu terasa kayak beban berat yang nggak jelas ujungnya.

Tulisan ini nggak mau kasih jawaban sakti. Tujuannya cuma satu: meyakinkan kamu bahwa kebingunganmu itu wajar, itu data, dan yang paling penting, itu justru peluang buat merancang masa depan yang lebih unik dan luwes.

Yuk, kita telusuri bareng kenapa ini bisa terjadi, apa akar masalahnya, dan langkah konkret apa yang bisa kita ambil buat ubah kebingungan jadi arah yang pasti.

Ini Wajar, Kok. Serius.

Waktu kamu bingung mau kerja apa, rasanya kayak kamu satu-satunya orang yang tersesat. Padahal, coba lihat sekeliling. Kebingungan itu justru normal, bukan anomali. Tekanan yang kita rasakan secara pribadi ini sebenarnya adalah persoalan struktural yang terjadi di mana-mana.

Faktanya, kebingungan itu muncul bahkan sebelum kita jadi mahasiswa. Ada data yang cukup mencengangkan: 92% siswa SMA dilaporkan bingung menentukan jurusan dan karir sebelum mereka kuliah. Coba bayangkan, sembilan dari sepuluh calon mahasiswa memulai perjalanan akademis tanpa peta yang jelas.

Angka 92% itu seharusnya bikin kita lega. Ini bukti bahwa sistem bimbingan karir kita di level sekolah masih sangat kurang. Alhasil, jutaan remaja harus memutuskan masa depannya dengan informasi yang terbatas.

Tekanan ini punya efek domino. Alih-alih eksplorasi dengan tenang, kita terpaksa pilih jurusan berdasarkan tren, tekanan orang tua, atau tes minat bakat yang dangkal. Kebingungan dari SMA ini kemudian numpuk selama kuliah, dan puncaknya adalah saat kita sadar bahwa jurusan yang kita ambil ternyata nggak cocok dengan passion atau kebutuhan pasar kerja.

Ngomong-ngomong soal pasar kerja, bekerja nggak sesuai jurusan itu sudah jadi hal biasa. Mantan Mendikbud Nadiem Makarim pernah menyebut, 80% mahasiswa di Indonesia bekerja di luar bidang studinya, baik saat masih kuliah atau setelah lulus.

Angka ini bukan cuma statistik. Ini cerminan nyata dari dinamika industri yang berubah cepat jauh lebih cepat daripada kurikulum kampus. Munculnya bidang-bidang baru seperti data scientist atau UX designer, yang sepuluh tahun lalu bahkan belum ada, bikin relevansi gelar spesifik semakin kabur. Dunia sekarang butuh skill set yang fleksibel, bukan cuma ijazah berbingkai.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsep karir linier lulusan A harus kerja di bidang A sudah ketinggalan zaman. Ini masalah global. Sebagai perbandingan, data dari AS tahun 2010 menyebut hanya 27% lulusan perguruan tinggi di sana yang bekerja sesuai jurusan.

Kalau negara sekelas Amerika aja mengalami pergeseran fokus dari gelar ke kemampuan adaptasi, kita bisa ambil pelajaran. Ngejar pekerjaan yang persis sesuai mata kuliah adalah ekspektasi yang terlalu kaku untuk zaman sekarang. Kita harus mulai merangkul ketidaklinieran ini sebagai keunggulan.

Namun begitu, keadaan ini nggak tanpa konsekuensi. Bagi yang gagal beradaptasi, dampaknya bisa serius. Menurut Sakernas BPS 2022, 7.99% pengangguran terbuka di Indonesia adalah lulusan universitas. Angka ini adalah tamparan keras: gelar sarjana saja bukan lagi jaminan dapat kerja.

Kesenjangan ini menciptakan beban ekonomi dan psikologis yang berat. Mereka yang menganggur seringkali hanya fokus pada teori, tanpa mengasah keterampilan praktis dan jaringan yang dibutuhkan industri.

Jadi, kebingungan kita yang didukung data-data tadi harusnya memicu kita untuk berpikir ulang. Bukan mencari "jurusan yang tepat," tapi "keterampilan dan pengalaman yang tepat" supaya kita bisa adaptif. Dengan paham bahwa ini adalah fenomena kolektif, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan fokus pada hal yang bisa kita kendalikan.

Jurusan di Kertas vs. Realita di Lapangan

Lalu, kenapa sih kesenjangan antara kampus dan industri bisa selebar ini? Akar masalahnya ternyata ada pada perbedaan mendasar antara fokus pendidikan tinggi dan tuntutan dunia profesional. Ditambah lagi dengan tekanan sosial dan persepsi yang kadang melenceng.

Harus diakui, sistem pendidikan tinggi (S1) itu lebih fokus pada landasan teori. Kita mungkin jago ngomongin teori filsafat atau model ekonomi rumit, tapi begitu disuruh pakai software analitik atau manage proyek dengan deadline ketat, banyak yang blank. Akibatnya, muncul jurang lebar antara pengetahuan kampus dan skill praktis yang dicari industri.

Jurang ini paling kerasa pas kita melamar kerja. Banyak kurikulum belum nyambung dengan teknologi terkini. Contohnya, lulusan ilmu komunikasi mungkin cuma diajarin teori media, padahal industri butuh kemampuan bikin strategi konten SEO. Lulusan teknik mungkin paham perhitungan struktur, tapi belum pernah praktik manajemen proyek agile yang dipakai perusahaan konstruksi modern. Intinya, industri butuh pelaku, sementara kampus seringkai hanya menghasilkan pemikir.

Persaingannya makin sengit karena lowongan entry-level sekarang sering mensyaratkan pengalaman magang atau portofolio proyek, bukan cuma IPK tinggi. Banyak mahasiswa sudah mulai magang dari tahun pertama, menciptakan ketimpangan bagi yang baru sadar di tahun akhir.

Fenomena magang dini ini juga kerap dipengaruhi faktor sosial-ekonomi. Mahasiswa yang punya jaringan atau akses informasi lebih baik biasanya dapat peluang magang bagus lebih cepat. Ini bikin lingkaran setan: butuh pengalaman untuk dapat kerja, tapi buat dapetin pengalaman itu sendiri butuh privilege tertentu.

Belum lagi, minat seseorang itu bisa berubah. Jurusan yang kita pilih di usia 18 tahun, dengan pemahaman yang masih terbatas, bisa aja udah nggak menarik di usia 22 tahun setelah kita terekspos dunia yang lebih luas.

Faktor non-akademik juga pengaruh besar. Tekanan sosial, misalnya, mendorong kita untuk langsung kuliah setelah SMA. Pertimbangan untuk ambil gap year sering dicap negatif dianggap gagal atau buang-buang waktu.


Halaman:

Komentar