Luka di Balik Kain Batik
Senja mulai turun ketika ia pulang. Bahunya memikul kayu bakar, tangan kirinya menjinjing keresek berisi singkong atau hasil bumi lain. Sampai di rumah, kayu ditata rapi, dahaga dipadamkan dengan segelas air. Lalu ia bersih-bersih diri, menyambut waktu Maghrib.
Tapi justru di sinilah cobaan terberatnya. Bukan cangkul yang berat, melainkan jam-jam setelah salat Maghrib usai. Di bawah lampu yang redup, Pak Muh kini rapi dengan baju batik duduk menyantap makan malam seadanya.
Di saat-saat seperti itulah pertahanannya sering runtuh. Air mata menetes, jatuh ke piring. Ia menangis bukan karena makanannya, tapi karena kesunyian itu datang lagi, membuka pintu kenangan. Sang istri seolah hadir, meninggalkan sesak yang tak terbendung.
Tak ada tisu di meja. Ia menyeka pelan dengan ujung lengan baju batiknya kain yang tadi dipakai untuk menghadap Tuhan, kini dipakai untuk mengusap duka.
Tidur adalah pelarian terakhir. Dalam mimpinya, ia berharap bisa bertemu sang istri, mengunjungi kembali kenangan-kenangan indah. Sebelum esok pagi, ia harus berjalan lagi satu kilometer itu, membasuh sepi dengan lumpur di sawah.
Mungkin bagi anak-anaknya di kota, ini pemborosan tenaga dan waktu. Tapi bagi Pak Muh, ritual harian ini adalah cara satu-satunya untuk tetap waras. Sejatinya, ia tidak cuma menanam padi. Ia sedang menolak mati dalam kesepian, sebelum waktunya benar-benar tiba.
Artikel Terkait
Banjir Susulan Landa 44 Desa di Aceh Timur, Ribuan Jiwa Terdampak
Menara Haji Indonesia di Makkah Ditargetkan Beroperasi pada 2028
Depok Bergerak: Pelebaran Jalan dan Rekayasa Lalu Lintas untuk Atasi Macet Kronis Sawangan
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang