Rencana pemerintah memasukkan Bahasa Inggris sebagai pelajaran wajib di SD mulai 2027 memang ambisius. Tujuannya jelas: menyiapkan "Generasi Emas" yang siap bersaing global. Tapi, semangat ini seperti ditampar oleh data terbaru. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang baru dirilis Kemendikdasmen justru membeberkan kondisi yang cukup memprihatinkan.
Bayangkan, skor rata-rata nasional untuk Bahasa Indonesia cuma 55,38. Matematika lebih parah lagi, di angka 36,10. Yang paling mengkhawatirkan, skor Bahasa Inggris nyaris tak sampai seperempat dari nilai sempurna, mentok di 24,93. Angka-angka ini bukan cuma deretan statistik. Ini adalah alarm, tanda bahaya yang nyaring.
Kita seperti terobsesi membangun menara pencakar langit kemahiran berbahasa asing sementara fondasi dasarnya, yaitu kemampuan berpikir dan berbahasa Indonesia, masih bolong-bolong dan rapuh.
Bahasa Sebagai Arsitektur Berpikir
Di lapangan, banyak guru mengeluhkan fenomena "kekosongan ide" pada siswa. Masalahnya sering bukan pada kosakata Inggris yang terbatas. Tapi lebih mendasar: mereka bingung mau menyampaikan apa. Ini persoalan logika, bukan sekadar bahasa.
Seperti pernah diungkapkan oleh Prof. Bagus Muljadi, bahasa sejatinya adalah arsitektur berpikir. Beliau merujuk pada konsep Trivium dalam Liberal Arts: Grammar, Logic, dan Rhetoric.
Nah, Grammar di sini bukan cuma soal hafalan tenses. Itu adalah struktur logika untuk membangun realitas. Kalau seorang siswa kesulitan menyusun argumen yang runtut atau cerita yang koheren dalam bahasa ibunya, mustahil kita berharap dia bisa melakukannya dalam bahasa asing. Skor Bahasa Indonesia yang cuma 55,38 itu buktinya. Kemampuan literasi dan nalar dasar mereka, dalam bahasa sendiri saja, masih jauh dari kata baik.
Artikel Terkait
Kobaran Api Hanguskan Rumah di Palmerah Dini Hari
Scroll Media Sosial Bikin Dada Sesak? Mungkin Kamu Terjebak dalam Perbandingan Karier yang Keliru
Heboh Video Bocil Block Blast: Penasaran yang Dijebak Phishing
Paris Membeku dalam Riang: Salju Ubah Kota Cahaya Jadi Arena Bermain