JAKARTA – Angka korban jiwa dalam musibah banjir bandang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, terus bertambah. Hingga Selasa (6/1/2026) sore, setidaknya 16 orang telah ditemukan meninggal dunia. Situasi di lapangan masih sangat dinamis.
Menurut Abdul Muhari dari BNPB, pencarian masih berlangsung untuk tiga warga lainnya yang hingga kini dinyatakan hilang. Tim gabungan dari berbagai elemen terus bekerja di lokasi bencana.
“Selain korban meninggal, hingga Selasa (6/1) pukul 14.00 WIB, tiga orang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian,” jelas Muhari.
Dia menambahkan, ratusan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Mereka mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap lebih aman.
Dari sisi korban, proses identifikasi jenazah masih berjalan. Baru lima dari enam belas korban meninggal yang berhasil diidentifikasi oleh petugas. Sementara itu, puluhan orang lain mengalami luka-luka. Sebagian besar sudah ditangani di puskesmas, tapi dua orang harus dirujuk ke rumah sakit di Manado karena kondisinya yang lebih serius.
“Jumlah pengungsi sementara tercatat sekitar 682 jiwa, dan angka tersebut masih terus diperbarui,” ujarnya.
Banjir bandang ini dampaknya cukup luas, melanda empat kecamatan sekaligus: Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan. Dua kelurahan dan enam desa terendam air dan material yang terbawa arus deras.
Kerusakan yang terlihat sungguh memilukan. Tidak tanggung-tanggung, tujuh rumah hanyut begitu saja. Lalu, 29 rumah lainnya rusak berat dan lebih dari seratus unit mengalami kerusakan ringan. Infrastruktur publik pun tak luput. Beberapa ruas jalan putus total, akses transportasi terhambat, dan bangunan kantor mengalami kerusakan.
“Pendataan kerugian materiil masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan,” kata Muhari soal hal ini.
Di sisi lain, upaya penanganan darurat terus digenjot. BPBD setempat berkoordinasi ketat dengan BPBD Provinsi Sulut, Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan. Fokus mereka sekarang adalah tiga hal: mencari yang hilang, mengevakuasi warga yang masih terjebak, dan mendata semua kerusakan yang ada.
Bantuan darurat seperti makanan, selimut, dan kebutuhan dasar lainnya sudah mulai disalurkan. Tujuannya jelas: memastikan kebutuhan para pengungsi bisa terpenuhi di tengah situasi yang serba sulit ini.
Pemerintah berjanji akan mengintensifkan semua upaya. Proses pencarian, pemulihan wilayah, dan pelayanan kepada pengungsi diharapkan bisa berjalan seoptimal mungkin. Semua pihak bergerak, meski dihadapkan pada kerusakan yang cukup parah.
Artikel Terkait
Bandara Koroway Batu Beroperasi Kembali dengan Pengamanan Ketat Pasca Insiden Penembakan Pilot
ASDP Terapkan Diskon Tiket dan Tarif Tunggal untuk Mudik Lebaran 2026
Wakil Ketua BS OJK Soroti Kontradiksi Nilai Ramadhan dengan Korupsi Rp310 Triliun
Anggota Polri Meninggal dengan Luka Mencurigakan, Propam Polda Sulsel Lakukan Visum dan Pemeriksaan