Akibatnya, beban justru berpindah ke pundak warga.
Dari sini, muncul ironi lain. Keterbatasan layanan publik malah membuka pasar bisnis baru. Hari menyoroti potensi perputaran uang yang besar dari penjualan alat penyaring air. Di satu kawasan saja, jika seratus rumah beli filter seharga Rp10 juta, bisa terkumpul Rp1 miliar. Angka yang tidak main-main.
"Ini menunjukkan bahwa air telah berubah menjadi komoditas bisnis," tambahnya. Rakyat kecil yang tak punya pilihan, terpaksa kembali mengandalkan air galon atau air tanah saat pasokan macet.
Lalu, di mana keberpihakan PAM Jaya dan PT Moya? Pertanyaan ini mengemuka, terutama untuk warga miskin yang paling merasakan dampak krisis air bersih. Kehadiran swasta semestinya memperkuat layanan, bukan malah memperlebar jurang.
Kontrak itu sudah berjalan. Uang triliunan telah dianggarkan. Tapi, sampai kapan cerita tentang air jerikan dan filter mahal ini akan menjadi bagian dari keseharian warga Jakarta? Itu yang masih menunggu jawaban.
Artikel Terkait
Siswa Tewas Usai Senapan Rakitan Meledak Saat Ujian Praktik di Siak
ASN Kementan Ubah Pekarangan Sempit Jadi Model Ketahanan Pangan Keluarga
Suami Tewas Ditikam di Pelukan Istri di Lubuklinggau, Pelaku Masih Diburu
Prabowo Saksikan Penyerahan Denda Hutan Rp11,4 Triliun ke Kas Negara