Di sisi lain, pembahasan dalam rapat cukup teknis. Mereka membicarakan mekanisme pengumpulan data dari lapangan. Data itu nantinya bakal diolah, dirumuskan, dan dijadikan laporan yang bersumber dari relawan, instansi pemerintah, hingga daerah. Harapannya, data yang akurat ini bisa jadi dasar pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.
Khalid sendiri menegaskan komitmen Satgas. Mereka berjanji akan terus mengawal koordinasi antar sektor, memantau perkembangan di lapangan, dan memastikan semua program pemulihan benar-benar jalan. Tujuannya satu: kepentingan masyarakat terdampak, terutama di Aceh, harus diprioritaskan.
“Dengan mulai berkantornya 14 PIC kementerian/lembaga di Posko Galapana, diharapkan berbagai kendala di lapangan dapat segera teridentifikasi dan diselesaikan melalui koordinasi langsung,”
jelasnya lagi.
Pada akhirnya, pola kerja terintegrasi seperti inilah yang diyakini bakal membawa hasil. Khalid menambahkan, cara kerja bersama ini diharapkan bisa membuat proses pemulihan berjalan lebih efektif. Tepat sasaran, dan yang penting, berkelanjutan untuk masa depan Aceh yang lebih baik pasca bencana.
Artikel Terkait
Relawan Bogor Bangun Hunian Darurat dan Bawa Harapan ke Aceh Tamiang
Longsor di Kudus Seret Dua Kendaraan ke Jurang
Istri di Balik Badai Haji: Eny Retno, Perempuan yang 21 Tahun Hidup dalam Sunyi
Menteri Agama: Ketahanan Bangsa Berawal dari Keluarga yang Kokoh