Kelompok itu, dalam pandangannya, tidak produktif. “Kaum mentok ini benar-benar nggak ada hari minggunya. Ngamuuuk aja kerjaannya!,” tulis Dian lagi.
Ia punya saran lain. Daripada sibuk mengkritik, lebih baik melakukan hal-hal yang positif.
“Pergi naik bukti kek atau pergi mancing, itu murah meriah tapi bisa tadabbur alam,” timpalnya.
Di akhir utasnya, Dian menegaskan kembali legitimasi Gibran sebagai wakil presiden terpilih. Sebuah pilihan yang dihasilkan oleh proses demokrasi.
“(Gibran) Wapres 286,8 Juta penduduk Indonesia,” tegasnya.
Ia bahkan menyindir mereka yang menolak mengakui hasil pemilu. Sindirannya cukup keras.
“Jika anda tidak mengakui, Negara-negara OECD masih menerima imigran, silahkan,” tulisnya ketus.
Reaksi Netizen: Bumerang yang Cepat
Alih-alih meredakan situasi, pernyataan Dian justru memantik gelombang kritik baru dari netizen. Banyak yang merasa tersinggung dengan nada superior dan sindirannya.
“Negara emang punya lu,” sentil seorang netizen bernama Doni Ardo dengan singkat.
Yang lain lebih keras lagi. Prio Sardjono menulis, “Termul merasa yang punya negara padahal dulu moyangnya pengkhianat alias antek Belanda.”
Begitulah. Sebuah kritik dari panggung komedi berubah jadi perdebatan panas di media sosial. Semua terjadi begitu cepat, dan sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Otak Tambang Ilegal di Tahura Bukit Soeharto Segera Hadapi Sidang
Tenda Pengungsian di Gaza Diserang Drone, Lima Anak di Antaranya Tewas
Mabuk dan Tuduhan Uang Patungan, Seorang Pria Tewas Dianiaya Teman Minumnya di Rappocini
Bos Kejahatan Cyber Chen Zhi Diekstradisi dari Kamboja, Aset Triliunan Rupiah Disita