Ia menggarisbawahi, keberhasilan ini bukan hasil kerja satu dua orang. Ini murni karena komitmen kuat dan kerja keras seluruh aparatur. Bayangkan saja, banyak dari mereka yang bertugas di pelosok negeri, dengan fasilitas seadanya. Mereka bekerja jauh dari sorotan.
"Justru dari merekalah kita belajar tentang keikhlasan dan pengabdian," tutur Menag.
Namun begitu, jalan ke depan jelas tidak akan mudah. Tantangan semakin kompleks, mulai dari dinamika sosial, lompatan teknologi, sampai persoalan keagamaan yang terus berkembang. Di tengah semua itu, anggaran tetap saja terbatas.
Lantas, apa solusinya? Menurut Nasaruddin, kuncinya ada pada pengelolaan yang cerdas dan penuh amanah.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan besarnya anggaran. Yang lebih penting adalah bagaimana anggaran yang ada dikelola secara amanah, tepat sasaran, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat," jelasnya.
Di penghujung sambutannya, ia kembali menebar harapan. Dengan semangat kebersamaan yang sudah terbukti ini, Kementerian Agama diyakini bisa terus memberi kontribusi nyata. Tujuannya satu: mewujudkan masyarakat rukun dan Indonesia yang damai. Seperti tema peringatan hari ini, itu semua butuh bakti, bukan sekadar kata-kata.
Artikel Terkait
Lapangan Gaspa Palopo Resmi Dibuka Usai Revitalisasi Senilai Rp 3,5 Miliar
Dua Perempuan Diamankan Polisi Usai Video Penginjakkan Alquran Viral di Lebak
Harga Emas Pegadaian Stabil, Galeri24 dan UBS Tak Bergerak
Wakil Bupati Bone Lepas Kontingen MTQ, Targetkan Juara Umum di Tingkat Provinsi