Sejak lama, Amerika melihat dirinya sebagai polisi dunia. Dengan keunggulan teknologi dan militernya, mereka merasa berhak menentukan nasib bangsa lain: siapa yang boleh berkuasa, dan siapa yang harus digulingkan. Pola pikir ini tak hanya untuk dunia Islam, tapi juga untuk belahan bumi lainnya. Mirip, ya, dengan klaim ras unggul yang kerap diembuskan?
Kita semua tahu kelanjutannya. Irak akhirnya diserbu. Korban jiwa dari rakyat sipil Irak konon mencapai lebih dari setengah juta orang. Ribuan tentara AS juga tewas. Belakangan, banyak veteran perang Irak di Amerika yang merasa dikhianati oleh Presiden Bush dan menuntut pertanggungjawaban.
Sekarang, di era Presiden Trump, skenario serupa sepertinya diulang. Bedanya, kalau dulu Saddam ditangkap, diadili di Irak, lalu dihukum gantung, kini targetnya adalah Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Rencananya, kalau tertangkap, Maduro akan diadili di Amerika.
Operasi penculikan yang disebut-sebut terhadap Maduro itu sendiri diawali dengan aksi kekerasan yang brutal. Pengeboman dan tembak-menembak dengan tim pengawalnya dikabarkan menewaskan sekitar 80 orang. Entah berapa lagi rakyat Venezuela yang akan menjadi korban berikutnya.
Yang jelas, motifnya klasik. Sama seperti Bush dulu yang tergiur minyak Irak, Trump kini mengincar kekayaan minyak Venezuela yang melimpah. Apalagi negaranya sendiri sedang dilanda krisis keuangan. Jika berhasil, Amerika akan mengendalikan Venezuela sepenuhnya politik, ekonomi, militer, semuanya.
Begitulah sekelumit pengalaman yang sempat saya alami. Dunia ini memang tak pernah hitam putih. Wallahu a’lamun hakim.
Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar Malam Ini
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit