Setelah keuntungan fantastis itu, nasib berbalik. HA mengalami kekalahan yang dalam. Dalam kondisi terdesak, dia pun berusaha mengejar kerugian dengan cara berhutang. "Dia pinjam di bank Rp 700 juta, terus di koperasi tempat kerjanya Rp 70 juta, plus pinjol Rp 50 juta," tutur Dian.
Tujuannya cuma satu: main kripto lagi. Sayangnya, hasilnya justru lebih parah. "Ya kalah lagi," ujar Dian.
Tekanan ekonomi itu rupanya sudah sangat mencekik. Bahkan, HA sempat curhat kepada istrinya lewat chat. Polisi menemukan percakapan itu di ponselnya. "Isinya, kalau keadaan semakin amblas, dia akan melakukan tindak kriminal," kata Dian membacakan.
Istrinya hanya bisa membalas, "Astagfirullah."
Percakapan mengerikan itu terjadi pukul 09.00 WIB. Hanya berselang empat jam kemudian, tepat pukul 13.00 WIB, aksi kejinya terjadi di BBS.
Dian menambahkan, rumah korban bukanlah target spesial. HA memilihnya secara acak, tanpa rencana matang. Sebuah niat kriminal yang muncul dari keputusasaan, dan berakhir pada tragedi yang menyayat hati.
Artikel Terkait
Pimpinan Ponpes di Lombok Tengah Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual
Debt Collector di Metro Diamankan, Diduga Gelapkan Mobil Debitur Rp285 Juta
Mentan Ancam Alihkan Anggaran Daerah yang Tak Serius Cetak Sawah
Komnas HAM Tegaskan Kritik Kebijakan Pemerintah Adalah Hak yang Harus Dijamin