Kripto Anjlok, Pria di Cilegon Bunuh Bocah 9 Tahun Secara Acak

- Senin, 05 Januari 2026 | 13:12 WIB
Kripto Anjlok, Pria di Cilegon Bunuh Bocah 9 Tahun Secara Acak

Suasana mencekam menyelimuti Kompleks BBS 3 di Cilegon. Di sebuah rumah di sana, Muhammad Axle Harman Miller, baru sembilan tahun usianya, ditemukan tewas terbunuh. Korban adalah anak dari Maman Suherman, seorang Anggota Dewan Pakar PKS.

Tak butuh waktu lama bagi polisi untuk mengungkap kasus ini. Pelakunya, seorang pria berinisial HA (31), berhasil diamankan. Pria asal Palembang ini bekerja sebagai operator produksi di PT "CA" dan tinggal di rumah kontrakan di Cilegon bersama istrinya.

Lantas, apa yang mendorong HA melakukan tindakan keji itu?

Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Banten, Kombes Pol Dian Setiawan, akar masalahnya adalah motif ekonomi. "Dari penyelidikan, pelaku sebelumnya main saham kripto. Modal awalnya Rp 400 juta, uang dari tabungan bareng istri," jelas Dian pada Senin (5/1).

Hebatnya, uang itu sempat membengkak. "Dari Rp 400 juta tadi, berkembang sampai bikin untung Rp 4 miliar," lanjutnya.

Tapi cerita indah itu tak berlangsung lama.

Terjebak Utang

Setelah keuntungan fantastis itu, nasib berbalik. HA mengalami kekalahan yang dalam. Dalam kondisi terdesak, dia pun berusaha mengejar kerugian dengan cara berhutang. "Dia pinjam di bank Rp 700 juta, terus di koperasi tempat kerjanya Rp 70 juta, plus pinjol Rp 50 juta," tutur Dian.

Tujuannya cuma satu: main kripto lagi. Sayangnya, hasilnya justru lebih parah. "Ya kalah lagi," ujar Dian.

Tekanan ekonomi itu rupanya sudah sangat mencekik. Bahkan, HA sempat curhat kepada istrinya lewat chat. Polisi menemukan percakapan itu di ponselnya. "Isinya, kalau keadaan semakin amblas, dia akan melakukan tindak kriminal," kata Dian membacakan.

Istrinya hanya bisa membalas, "Astagfirullah."

Percakapan mengerikan itu terjadi pukul 09.00 WIB. Hanya berselang empat jam kemudian, tepat pukul 13.00 WIB, aksi kejinya terjadi di BBS.

Dian menambahkan, rumah korban bukanlah target spesial. HA memilihnya secara acak, tanpa rencana matang. Sebuah niat kriminal yang muncul dari keputusasaan, dan berakhir pada tragedi yang menyayat hati.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar