"Bermitra dengan AS, dan dengan negara manapun, tidak boleh menjadikan Indonesia negara penurut yang mengorbankan hal-hal yang prinsipil," tegasnya.
Di sisi lain, Dino juga menyoroti keheningan Menlu Sugiono. Padahal, sebagai pemain kunci di Global South, dunia internasional punya ekspektasi tinggi pada Indonesia. Ia lalu membandingkan dengan masa lalu, ketika Indonesia berani bersuara lantang menentang invasi AS ke Irak.
"Kenapa Menlu Sugiono sampai sekarang tidak bersuara, padahal dunia menunggu pandangan Indonesia sebagai pemain Global South yang penting," tambahnya. "Ini momen Indonesia perlu percaya diri menunjukkan sikap."
Sebelumnya, seperti diketahui, Kemlu memang telah mengeluarkan pernyataan. Isinya seruan agar semua pihak mengedepankan dialog dan patuh pada Piagam PBB serta hukum humaniter. Mereka juga menyatakan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekuatan yang bisa jadi preseden berbahaya.
Namun begitu, bahasa yang dipilih sangat umum, tanpa penudingan langsung. Bagi Dino dan sejumlah pengamat, retorika semacam itu kurang kuat. Kurang mencerminkan posisi Indonesia yang seharusnya bisa menjadi kekuatan moral di panggung global. Situasinya jadi terasa hambar, jauh dari keberanian yang dulu pernah ditunjukkan.
Artikel Terkait
Wagub Babel Diperiksa Bareskrim, Ijazah Diklaim Cuma Belum Dilegalisir
Ketika Algoritma Menjadi Hakim Cinta: Red Flag yang Menggerus Relasi Manusia
TikTokable atau Tidak? Destinasi Hits 2026 dan Trik Simpan Video Tanpa Watermark
Pemulihan Aceh dan Sumatera: Ekonomi Kreatif dan Klinik UMKM Jadi Ujung Tombak