EDITORIAL JAKARTASATU: NEGERI YANG TIDAK BOLEH TERBELAH
KAMI ini lahir dari tanah yang sama. Indonesia. Ia bukan hadiah yang turun dari langit begitu saja. Negeri ini ditebus dengan peluh dan darah, oleh tangis para ibu yang melepas anaknya ke medan juang, oleh doa-doa yang dipanjatkan diam-diam di tengah gemuruh senapan. Para pendahulu kita bahkan tak sempat menikmati kata 'merdeka', tapi mereka percaya penuh bahwa bangsa ini layak untuk hidup utuh.
Maka, sungguh sebuah pengkhianatan jika kita sekarang menciderainya.
Jangan koyak-koyak persatuan luas ini dengan kesetiaan sempit. Jauhkan ambisi yang lupa batas dan keserakahan yang berselimut kebenaran. Negeri kita, harus diingat, bukan milik satu suara atau satu tafsir. Bukan pula milik segelintir kelompok yang merasa paling suci dan paling berhak. Ini rumah bersama. Tempat di mana perbedaan disepakati untuk hidup berdampingan, bukan untuk saling meniadakan.
Lihatlah. Kami memang berbeda lidah, tapi bersumpah dalam satu bahasa Indonesia. Keyakinan kami beragam, namun kita semua berdiri tegak di bawah merah putih. Jalan hidup pun tak sama, tapi ada satu kesepakatan bulat: negeri ini tidak boleh kita runtuhkan dengan tangan kita sendiri.
Di sisi lain, kita harus jujur mengakui bahaya yang mengintai. Jangan sampai ada negara dalam negara. Jangan bangun tembok-tembok sektarian di atas tanah yang diperjuangkan bersama. Loyalitas ganda hanya akan membuat hukum tunduk dan wajah keadilan menjadi buram.
Sebab akibatnya sudah bisa ditebak. Ketika hukum dibelah, yang lahir bukan kekuatan, melainkan kekacauan. Dan ketika kebenaran cuma jadi milik privat segelintir orang, yang tumbuh subur bukan iman, melainkan ketakutan yang mencekik.
"
Sejarah sudah sering membisikkan pelajaran pahit. Bangsa-bangsa besar runtuh, seringkali bukan karena serangan musuh dari luar, tapi karena retak dari dalam. Retak kecil yang dibiarkan melebar oleh kebencian yang sengaja dirawat, oleh kata-kata yang melukai, oleh api permusuhan yang disulut atas nama apapun.
Padahal, api tak pernah memilih korban. Dan luka tidak akan bertanya siapa yang memulai lebih dulu.
Karena itulah, selamatkan negeri ini. Gunakan akal sehat dan hati yang jernih. Butuh keberanian untuk bilang "cukup" pada politik adu domba yang usang. Butuh pula kerendahan hati untuk mengalah, demi tujuan yang lebih besar: persatuan.
Patriotisme sejati bukan soal teriakan yang paling keras. Tapi tentang tindakan nyata menjaga agar negeri tetap utuh. Cinta tanah air pun bukan berarti menyingkirkan yang berbeda, melainkan memastikan setiap anak bangsa punya tempat yang adil di bawah langit yang sama.
Kita semua pasti ingin negeri yang tegas tapi adil. Kuat, namun beradab. Berdaulat tanpa perlu menindas. Beriman tanpa memaksa. Impian akan negeri di mana hukum berdiri lurus dan pemimpin tunduk pada amanah rakyat, bukan pada kepentingan kelompok sempit, harus tetap kita pegang.
Jadi, jika Anda mengaku cinta bangsa ini, buktikan dengan merawat persatuannya. Kalau Anda bilang membela kebenaran, lindungilah kemanusiaan yang ada di dalamnya. Dan jika perjuangan Anda adalah untuk masa depan, jangan wariskan perpecahan kepada anak-cucu.
Mereka berhak tumbuh tanpa rasa curiga. Tanpa beban dendam warisan. Tanpa dipaksa memilih antara identitas mereka dan rasa kebangsaan.
Biarlah perbedaan jadi kekayaan, bukan senjata. Biarkan keyakinan menjadi cahaya penerang, bukan bara penghangus. Negara harus berdiri satu, tanpa ada bayang-bayang negara lain yang tumbuh di dalamnya. Fenomena seperti area yang tak terpantau, yang bisa jadi permainan, adalah contoh nyata yang harus diwaspadai. Itu awal dari "negara dalam negara".
Negeri kita terlalu berharga untuk dikorbankan demi ego sesaat. Terlalu mahal untuk ditukar dengan kekuasaan yang fana. Dan terlalu suci untuk dinodai oleh pengkhianatan terhadap ikrar persatuan.
Maka, dengan suara tenang namun teguh, kami berseru: jangan cederai bangsa ini. Selamatkan negeri kita. Jaga ia agar tetap satu. Utuh dalam perbedaan, kuat dalam kebersamaan.
Karena Indonesia bukan cuma milik kita hari ini. Ia adalah titipan sejarah yang berat, untuk masa depan yang harus kita jaga bersama-sama.
Jakarta, 5 Januari 2026.
(jaksat/ed/ame/red)
Artikel Terkait
Analis: Kemunculan Sjafrie dalam Bursa Capres 2029 Pertekan Peluang Gibran
Mentan Gandeng Organisasi Muda untuk Gerakkan Program Strategis Pertanian
Ahli Keuangan Soroti Fenomena Self Reward Generasi Z di Tengah Ketidakmampuan Beli Aset
Kejagung Dukung Wacana Pembentukan Unit Penyidikan HAM di Komnas HAM