Ledakan mengguncang Caracas di tengah malam buta, Sabtu (3/1) lalu. Serangan udara Amerika Serikat itu bukan sekadar serangan biasa operasi militer tersebut berakhir dengan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan elite AS. Sebuah langkah dramatis yang langsung memicu kecaman keras dari pemerintah Venezuela, yang menuduh Washington melanggar kedaulatan dan hukum internasional. Kini, Maduro sudah berada di wilayah AS.
Berikut adalah rangkaian peristiwa yang terungkap sejauh ini.
Korban Jiwa Berjatuhan di Bawah Serangan
Gambaran awal tentang dampak serangan itu sungguh suram. Menurut laporan The New York Times yang mengutip pejabat Venezuela, sedikitnya 40 orang tewas. Angka itu mencakup warga sipil dan tentara. Salah satu serangan dilaporkan menghantam sebuah bangunan tempat tinggal tiga lantai di La Mar Catia, wilayah pesisir dekat Bandara Caracas.
Di antara mereka yang tidak selamat adalah Rosa Gonzalez, seorang perempuan berusia 80 tahun, bersama anggota keluarganya. Banyak juga yang terluka dalam insiden itu.
Kekacauan langsung menyebar. Warga yang terbangun oleh dentuman berhamburan ke jendela dan teras rumah mereka di kegelapan listrik padam di sejumlah area, menambah suasana mencekam. "Dari sini, kami bisa mendengar ledakan di sekitar Fort Tiuna," kata Emmanuel Parabavis (29) kepada AFP, merujuk pada salah satu pangkalan militer terbesar di negara itu. Kebingungan dan kepanikan jelas terasa.
Perjalanan Paksa ke New York
Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya, Celia Flores, langsung dibawa pergi. Mereka tiba di sebuah pangkalan militer AS di New York pada hari Minggu (4/1). Menurut pantauan AFP, Maduro turun dari pesawat pemerintah AS dengan dikawal ketat agen FBI. Ia masih mengenakan sweater dan celana training abu-abu yang melekat di tubuhnya sejak penangkapan. Dari landasan, mereka langsung dibawa pergi menuju Fasilitas Garda Nasional New York.
Masa Tahanan di Penjara Federal
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, kemudian mengonfirmasi bahwa mantan presiden itu dan istrinya akan dijebloskan ke penjara federal kota New York.
"Saya diberi tahu militer AS, bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya yang baru saja ditangkap, akan dipenjara di penjara federal kota New York," tulisnya di akun X resminya, @NYCMayor.
Mamdani tidak menyembunyikan kritiknya terhadap tindakan pemerintah federalnya sendiri. "Bagaimanapun, menyerang sebuah negara berdaulat adalah tindakan perang dan melanggar hukum federal dan internasional," tegasnya.
Di tengah situasi yang memanas, ia menyatakan prioritasnya adalah menjaga keamanan warga New York, termasuk puluhan ribu imigran Venezuela yang menetap di sana. "Fokus saya adalah keamanan mereka, dan keamanan setiap warga New York. Kami akan terus memonitor situasi dan menyampaikan arahan-arahan yang relevan," ucap Mamdani.
Segunung Tuduhan Menanti
Lantas, atas dasar apa AS bertindak? Jaksa Agung AS, Pam Bondi, membeberkan sejumlah dakwaan berat terhadap Maduro melalui unggahan di X pada Sabtu (3/1). Daftarnya panjang: Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, hingga Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak.
Klaim Kontrol dari Trump
Sementara itu, dari Washington, Donald Trump menyatakan akan mengambil alih kendali Venezuela untuk sementara. Tujuannya, katanya, demi memastikan transisi yang aman dan terkendali pasca-penangkapan Maduro.
"Kita akan menjalankan negara ini sampai kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana," ujar Trump dalam konferensi pers Minggu (4/1). "Kami menginginkan perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat Venezuela yang hebat."
Ia juga menyebut kepentingan jutaan warga Venezuela yang hidup di perantauan, termasuk di AS, yang ingin pulang.
Dukungan dari Dalam Negeri
Namun begitu, di Venezuela, Wakil Presiden Delcy Rodriguez bersikukuh menolak narasi AS. Di hadapan media, ia dengan lantang menegaskan bahwa hanya ada satu presiden sah.
“Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolas Maduro Moros,” tegas Rodríguez, seperti dikutip The Hill.
Pernyataannya itu sekaligus membantah klaim Trump yang menyebut Rodriguez sebagai presiden baru. Alih-alih menerima, ia justru mengecam operasi militer AS dan menuntut pembebasan segera Maduro beserta istrinya.
Minyak dan Kepentingan Bisnis
Ada lagi yang mencuat dari pernyataan Trump: soal minyak. Ia mengumumkan rencana untuk memperbaiki industri minyak Venezuela yang disebutnya telah "gagal total" dengan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS.
“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat... masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah," kata Trump. Venezuela memang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel.
Trump mengklaim telah menyiapkan 'sekelompok orang' untuk mengelola proses ini, meski rinciannya tidak dijelaskan. “Kami akan mengelolanya dengan sebuah kelompok, dan kami akan memastikan semuanya dijalankan dengan benar,” ujarnya singkat.
Artikel Terkait
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Aceh dan Sumut
Kematian Bos Kartel El Mencho Picu Gelombang Kekerasan di Meksiko
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026