Ritual Pamungkas: Ketika Kematian Dihidupi dalam Ragam Tradisi Nusantara

- Senin, 05 Januari 2026 | 03:06 WIB
Ritual Pamungkas: Ketika Kematian Dihidupi dalam Ragam Tradisi Nusantara

Indonesia itu kaya. Luar biasa kaya, bukan cuma soal alam, tapi juga cara orang-orangnya menghadapi satu hal yang pasti: kematian. Di sini, pemakaman jarang yang sederhana. Lebih sering, ia adalah sebuah ritual sakral yang penuh doa, simbol, dan warisan nilai yang mengakar jauh.

Ambil contoh Tana Toraja. Di sana, kematian itu dipandang sebagai sebuah perjalanan panjang, bukan titik akhir yang mendadak. Jenazah bisa disemayamkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menunggu keluarga siap secara adat dan ekonomi. Baru kemudian digelar Rambu Solo’, sebuah prosesi megah yang menghadirkan tarian, nyanyian, dan penyembelihan kerbau. Hewan itu dipercaya bakal menjadi kendaraan roh menuju alam baka.

Lain lagi ceritanya di Bali. Bagi umat Hindu di pulau dewata, upacara Ngaben adalah bentuk pemurnian. Api yang menyala-nyala menjadi simbol pelepasan, membebaskan roh dari ikatan duniawi agar bisa kembali ke asal-usulnya. Jadi, Ngaben bukan sekadar acara duka. Ia lebih merupakan sebuah jalan suci menuju keseimbangan spiritual.

Kalau ke tanah Batak, kita akan menemukan Saur Matua. Upacara ini khusus untuk orang tua yang wafat dalam kondisi sempurna setelah melihat anak dan cucunya tumbuh dewasa. Suasana duka bercampur syukur. Iringan gondang dan tarian adat menggema, bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai penghormatan atas sebuah kehidupan yang dianggap paripurna.

Peti jenazah diusung oleh keluarga dan kerabat. Warna merah dan emas dari ulos yang mereka kenakan mencolok di antara kerumunan. Ritualnya khidmat, penuh makna, benar-benar sebuah penghormatan terakhir yang layak.

Menyeberang ke Kalimantan, suku Dayak punya cara unik mereka sendiri: upacara Tiwah. Ini adalah ritual pemindahan tulang belulang leluhur ke rumah kecil bernama sandung. Mereka yang hadir biasanya mengenakan busana adat berwarna merah, dihiasi bulu-bulu. Prosesinya sakral, dengan keyakinan bahwa ini akan membantu mengantarkan roh dengan selamat menuju alam keabadian.

Sementara itu, di Papua, suku Dani pada masa lalu punya ekspresi duka yang sangat fisik. Pemotongan ruas jari adalah simbol kesedihan yang mendalam. Mereka juga mengawetkan jenazah leluhur, sebuah praktik yang menunjukkan betapa penghormatan itu tak berhenti setelah nafas terakhir.

Dari sekian banyak tradisi itu, satu hal yang jelas: bagi banyak masyarakat Indonesia, kematian bukan akhir segalanya. Ia justru menjadi ruang pertemuan yang khusyuk antara doa, budaya, dan rasa hormat kepada yang mendahului kita. Di tengah gempuran modernisasi, ritual-ritual semacam ini tetap bertahan. Mereka adalah pengingat nyata bahwa kearifan lokal dan nilai spiritual masih hidup, masih dirawat dengan sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, tradisi pemakaman Nusantara ini bukan cuma soal melestarikan warisan masa lalu. Lebih dari itu, ia adalah cermin. Cermin tentang bagaimana bangsa ini menghargai kehidupan, bahkan dalam momen perpisahan yang paling akhir sekalipun.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar