85% Sekolah di Indonesia Telah Direvitalisasi, Target Rampung Awal 2026

- Minggu, 04 Januari 2026 | 17:48 WIB
85% Sekolah di Indonesia Telah Direvitalisasi, Target Rampung Awal 2026

Di Medan, Minggu lalu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memberikan kabar yang cukup menggembirakan. Ia meresmikan sejumlah sekolah yang telah direvitalisasi, sekaligus mengumumkan bahwa sebagian besar program peremajaan sekolah di tanah air sudah beres. Angkanya mencapai 85 persen.

“Dengan anggaran Rp 16,9 triliun, kita memberikan dukungan revitalisasi dan juga pembangunan unit sekolah baru untuk 16.171 satuan pendidikan di seluruh Indonesia,” jelas Mu'ti.

Ia melanjutkan, “Dari jumlah itu, 85 persen lebih sudah selesai dilaksanakan dan sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh seluruh murid-murid di sekolah-sekolah di Indonesia.”

Anggaran triliunan rupiah itu, menurutnya, bukanlah kerja kecil. Tapi hasilnya sudah mulai kelihatan. Di sela-sela peresmian itu, Mu'ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah ini adalah bagian dari agenda utama pemerintah. Bahkan, ini masuk dalam tiga program prioritas Presiden.

“Pertama, program revitalisasi satuan pendidikan. Kemudian, kedua adalah program digitalisasi pendidikan dan yang ketiga adalah program peningkatan kualitas dan kesejahteraan para pendidik dan tenaga kependidikan,” ujarnya merinci.

Nah, soal digitalisasi, pemerintah ternyata sudah bergerak cepat. Untuk tahun 2025 saja, sudah ada 288.865 panel interaktif yang dibagikan ke berbagai sekolah. Ini adalah upaya nyata menggenjot transformasi belajar mengajar.

Lalu, kapan semua program ini tuntas? Mu'ti punya target yang jelas. Ia berharap seluruh proses pembangunan dan revitalisasi bisa rampung paling lambat akhir Januari 2026.

“Sehingga mudah-mudahan pada bulan Februari nanti semua sudah dapat digunakan sepenuhnya untuk pembelajaran yang berkualitas,” pungkasnya penuh harap.

Jadi, dalam hitungan bulan ke depan, diharapkan wajah pendidikan dasar dan menengah kita semakin cerah. Baik dari segi fasilitas fisik, teknologi, maupun kualitas gurunya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar