Minggu pagi di Kampung Tugu, Cilincing, riuh rendah dengan tawa. Warga yang kebanyakan dari Komunitas IKBT itu berkumpul, siap melanjutkan sebuah kebiasaan lama: tradisi Mandi-Mandi. Tanggal 4 Januari jadi momennya, sekaligus pembuka tahun.
Bedak berwarna jadi alat utamanya. Bukan untuk dirias, tapi untuk dicorengkan ke wajah satu sama lain. Itulah inti ritualnya. Maknanya dalam: simbol saling memaafkan, menebus dosa dan kesalahan sepanjang tahun yang sudah lewat. Sebuah cara unik untuk mengawali lembaran baru dengan hati yang bersih.
Menurut sejumlah saksi, lokasi acara ini tak selalu sama. Masyarakat setempatlah yang biasa berembuk, menentukan di titik mana Mandi-Mandi akan digelar. Yang pasti, ritual ini selalu jatuh pada hari Minggu di awal tahun. Sudah begitu sejak dulu.
Di sisi lain, Mandi-Mandi bukan cuma soal introspeksi diri. Lebih dari itu, ini adalah tanda kesiapan warga menyongsong apa yang akan datang. Semacam penyegaran jiwa sebelum menjalani rutinitas lagi.
Nuansa kebersamaannya terasa sekali. Saling kejar, coreng, lalu tertawa lepas. Hubungan antarwarga makin erat karenanya. Inilah warisan leluhur yang masih bertahan, dijaga turun-temurun di tengah gempuran modernisasi Jakarta.
Kekeluargaan. Mungkin itu kata yang tepat. Semangat itu masih kental terasa di Kampung Tugu, dan Mandi-Mandi adalah bukti nyatanya.
Artikel Terkait
Jonatan Christie Akhirnya Tembus Final Indonesia Open 2026, Hadapi Kejutan Asal Kanada
Kuasa Hukum Roy Suryo Sebut Berkas Perkara Ijazah Jokowi Gugur Secara Administrasi
Amanda Manopo dan Kenny Austin Umumkan Kelahiran Anak Pertama, Bayi Laki-Laki Bernama Zac
Tokoh Sepuh NU Kiai Manarul Hidayat Restui Gus Hery Maju Calon Ketua Umum PBNU