Negara ini adalah salah satu pendiri OPEC. Di era 1970-an, Venezuela bisa memompa 3,5 juta barel per hari, menyumbang lebih dari 7% produksi global. Kini? Angkanya anjlok drastis.
Sepanjang tahun lalu, produksi rata-ratanya hanya sekitar 1,1 juta barel per hari sedikit sekali, cuma 1% dari total dunia. Penurunan yang sangat dramatis.
“Kalau benar ada perubahan rezim yang permanen, pasar bisa dapat pasokan minyak lebih banyak ke depannya,” kata Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management. “Tapi, butuh waktu lama untuk pemulihan total.”
Analis lain, Saul Kavonic dari MST Marquee, sepakat. Menurutnya, pencabutan sanksi dan kembalinya investor asing bisa mendongkrak ekspor Venezuela. Namun, Jorge Leon dari Rystad Energy mengingatkan, “Sejarah menunjukkan perubahan rezim paksa jarang bikin pasokan minyak stabil dengan cepat. Lihat saja Libya dan Irak.”
Jalan Berliku Investasi Asing
Industri minyak Venezuela dinasionalisasi pada 1970-an lewat PDVSA. Era 1990-an sempat terbuka untuk investor asing, sebelum akhirnya ditutup lagi saat Hugo Chavez berkuasa. PDVSA kemudian membentuk sejumlah usaha patungan dengan raksasa seperti Chevron, CNPC China, ENI, Total, dan Rosneft Rusia, dengan harapan produksi bisa naik.
Hubungan Rumit dengan Dua Raksasa
Dulu, AS adalah pembeli utama minyak Venezuela. Tapi hubungan itu putus oleh sanksi. Dalam dekade terakhir, China mengambil alih peran itu. Caranya? Dengan skema utang.
Venezuela punya utang sekitar $10 miliar ke China, yang dibayar dengan mengirimkan minyak mentah. Pengiriman ini menggunakan kapal-kapal tanker raksasa. Menariknya, dua dari kapal itu sedang mendekati Venezuela tepat saat Trump mengumumkan blokade terhadap semua kapal tanker yang masuk dan keluar dari negara tersebut.
Sekarang, menurut dokumen internal dan data pelayaran, kapal-kapal itu cuma bisa menunggu di tempat. Ekspor Venezuela praktis terhenti. Trump sendiri, dalam wawancara dengan Fox News, cuma bilang China akan “dapat minyaknya” tanpa penjelasan lebih rinci. Sebuah akhir yang menggantung untuk sebuah drama geopolitik yang masih penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
Patung Macan Aneh di Kediri Justru Jadi Magnet Wisata dan Pendorong Ekonomi Desa
Babi Ngaku Halal: Sindiran Pedas Puji Anugrah Laksono pada Para Pengkotbah Moral
Di Balik Stereotip Manja: Kesepian yang Tak Terungkap dari Anak Bungsu
Retret Kabinet Berakhir, Prabowo Apresiasi Inisiatif Menteri dan Sinyalkan Optimisme 2026