Di penghujung tahun 2025, serangkaian aksi teror menimpa sejumlah aktivis dan influencer. Menanggapi hal ini, Muhammadiyah menyatakan rasa sesalnya yang mendalam.
Anwar Abbas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, punya pandangan keras. Menurutnya, peristiwa semacam ini justru berpotensi merusak citra pemerintahan Prabowo Subianto yang belum lama berdiri. Bayangkan saja, publik bisa dengan mudah mencap sang pemimpin baru sebagai figur yang anti-kritik. Padahal, kritik sosial adalah bagian dari demokrasi.
"Kami tidak mau hal itu terjadi," tegas Anwar kepada TEMPO, Kamis (1/1/2026).
"Dampaknya bisa sangat buruk bagi masa depan bangsa."
Di sisi lain, dia menilai kasus-kasus teror ini bukan cuma soal citra. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pelecehan terhadap konstitusi. Sebab, kebebasan berpendapat sudah dijamin di dalamnya. Alih-alih sibuk dengan hal-hal yang mencemaskan, pemerintah mestinya fokus pada pekerjaan nyata. Menangani bencana di Sumatera, misalnya, dan membantu para korban yang terdampak. Itulah jawaban terbaik atas kritik dari masyarakat sipil.
Bukti kerja di lapangan, kata Anwar, jauh lebih ampuh dan efektif menyampaikan pesan kepada publik. "Daripada hanya berupa kata-kata semata," ucapnya.
Rentetan Intimidasi
Memang, apa yang terjadi belakangan ini cukup mencemaskan. Ambil contoh pemusik Aceh, DJ Donny. Dia mengaku dapat kiriman bangkai ayam plus surat ancaman. Rumahnya bahkan dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.
Korbannya beragam. Ada Shery Annavita, influencer Aceh yang mobilnya divandalisme dan dikirimi telur busuk. Lalu, rumah Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Greenpeace Indonesia, juga dapat 'paket' serupa: bangkai ayam beserta pesan ancaman. Teror terhadap Iqbal ini diduga kuat terkait kerja-kerja kampanyenya yang kerap mengkritik penanganan bencana Sumatera.
Dunia maya pun tak aman. Kreator konten Virdian Aurellio, yang rajin mengunggah kondisi pascabencana Aceh, jadi sasaran. Akun WhatsApp adiknya diretas dan dipakai kirim konten porno ke berbagai grup. Keluarganya yang lain juga mengalami upaya peretasan akun, disertai pesan-pesan yang mendiskreditkan Virdian.
Aktor Yama Carlos juga merasakan hal serupa. Setelah mengunggah video satir soal bencana Sumatera, dia kebanjiran ancaman lewat WhatsApp. Ada perintah untuk menghapus konten, bahkan paket COD fiktif yang dikirim ke alamat rumahnya.
Menanggapi rentetan laporan ini, Menteri HAM Natalius Pigai mengaku belum mengetahui detailnya.
"Saya sendiri belum tahu. Jadi bagaimana saya percaya mereka diteror?" tanyanya lewat pesan singkat, Rabu (31/12/2025).
"Oleh siapa? Karena apa?"
Artikel Terkait
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi