Jepang, melalui Kementerian Pertahanannya, ikut mendeteksi peluncuran itu. Menurut pantauan mereka, rudal tersebut diperkirakan telah jatuh sekitar pukul 08.08 waktu setempat di sebuah lokasi yang sengaja tidak dirinci. Detailnya samar, tapi pesannya jelas.
Ini bukan kali pertama, tentu saja. Tapi setiap peluncuran selalu membawa nuansa berbeda. Uji coba terakhir Pyongyang terjadi pada November 2025 silam. Saat itu, aksi mereka menyusul keputusan Presiden Donald Trump yang menyepakati rencana Korea Selatan untuk membangun kapal selam nuklir. Sebuah gerakan yang tampaknya tak pernah diabaikan oleh rezim di Utara.
Lantas, apa tujuan di balik aksi terbaru ini? Beberapa pengamat melihatnya sebagai bagian dari upaya panjang untuk menyempurnakan presisi serangan rudal mereka. Akurasinya terus dikejar. Namun begitu, ada pula spekulasi lain yang beredar: bahwa Korea Utara mungkin sedang menguji kualitas senjata-senjata andalannya sebelum akhirnya dikirim ke mitra seperti Rusia. Ekspor militer menjadi bisnis yang serius.
Bagaimanapun, langkah ini jelas bukan sekadar rutinitas latihan. Ia menciptakan tantangan nyata, khususnya bagi Korea Selatan dan sekutunya, Amerika Serikat. Ketegangan di kawasan ini seperti pendulum, berayun antara keheningan dan ledakan dan hari ini, pendulum itu kembali bergerak.
Artikel Terkait
Bonus Demografi atau Beban Masa Depan? Saat Satu Juta Sarjana Menganggur
Prabowo Sindir Pakar Ngarang di Podcast, Klaim Swasembada Beras Lebih Cepat dari Target
Hanya Dua Menit di Dunia, Tapi Penentu Nasib Abadi
Invasi AS ke Venezuela: Presiden Berbahaya untuk Taiwan?