Lampu-lampu hias mulai bermunculan di sudut kota. Udara malam terasa lebih menusuk. Di group chat keluarga, pertanyaan yang sama terus berulang: "Kapan pulang?" Bagi mahasiswa perantau, momen akhir tahun bukan cuma soal pergantian kalender. Ini perjalanan emosi yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar menempuh jarak fisik.
Tapi, pulang? Ah, itu kemewahan yang tak semua orang dapat. Kalender akademik punya logikanya sendiri. Tugas menumpuk, ujian susulan mengintai, dan tak sedikit kampus yang masih sibuk hingga awal Januari. Hati mungkin sudah melayang ke rumah, sementara badan masih terpancang di kota rantau. Ruang jeda yang ganjil.
Dilema: Rindu vs Kewajiban
Rindu rumah itu manusiawi, ya. Tapi dunia perkuliahan seringkali tak peduli dengan romantisme semacam itu. Sementara kantor-kantor tutup buku dan sekolah-sekolah libur, mahasiswa perantau masih berkutat dengan laporan lab, revisi bab skripsi, atau bimbingan yang tak kunjung rampung.
Suasana kosan pun berubah. Sepi. Suara ransel teman sekamar yang dikemas terasa seperti pengkhianatan. Tiket pesawat dicek bolak-balik, tabungan dihitung ulang. Tapi tanggung jawab itu masih ada, menahan langkah. Di sinilah ujian kedewasaan yang sebenarnya: bertahan bukan karena tak ingin pulang, tapi karena sadar ada komitmen yang harus ditebus sampai tuntas.
Rumah, Rasa Bersalah, dan Jarak
Rumah seharusnya jadi tempat kita kembali. Namun bagi perantau, ia juga bisa jadi sumber rasa bersalah. Takut dianggap "lupa rumah" cuma karena tak bisa ikut merayakan. Padahal, realitanya jauh lebih rumit.
Rumah sebenarnya tak pernah pergi. Cuma jarak dan waktunya saja yang berubah.
Pulang itu proses menemukan diri lagi. Saat seorang mahasiswa memilih bertahan di rantau, dia bukan menjauh dari keluarga. Justru, dia sedang membangun sesuatu untuk nantinya dibawa pulang. Meski begitu, kesepian itu nyata. Makan malam sendirian, tahun baru mungkin cuma ditemani mi instan dan gemerlap foto orang lain di media sosial. Di keheningan itu, kita belajar satu hal: kuat itu bukan soal tak pernah rapuh, tapi soal tetap bisa melangkah meski dada sesak oleh rindu.
Kampus dan Kalender yang (Kurang) Manusiawi
Persoalannya, kultur kampus sering berasumsi semua mahasiswa bisa "menyesuaikan diri". Padahal, tak semua orang berasal dari kota yang sama. Perjalanan pulang bisa makan waktu berhari-hari, dengan biaya yang tak sedikit.
Di era yang gemar bicara fleksibilitas dan "kampus merdeka", mungkin sudah waktunya kalender akademik dirancang lebih manusiawi. Bukan cuma untuk dosen dan staf, tapi terutama untuk mereka yang merantau.
Libur itu kebutuhan, bukan kemewahan.
Ini bukan soal tunduk pada romantisme tahun baru. Tapi soal kompromi. Soal memberi jeda. Soal memahami bahwa di balik status mahasiswa, ada anak manusia yang punya keluarga dan kerinduan yang perlu disambangi.
Ketabahan di Balik Layar
Di balik pujian "mandiri" yang sering dilekatkan pada mahasiswa perantau, ada banyak pergulatan yang tak terlihat.
Seperti menahan air mata saat video call agar orang tua tak khawatir. Berhemat ketat sampai-sampai harus pikir seribu kali untuk jajan kopi. Menghadapi tekanan akademik tanpa support system yang langsung bisa dipeluk.
Akhir tahun seperti cermin. Bagi yang bertahan, ini saatnya belajar memeluk diri sendiri lebih erat. Dan itu, percayalah, bukan pencapaian yang remeh.
Makna Pulang yang Lain
Jadi, pulang tak selalu berarti fisik sampai di teras rumah. Kadang, pulang adalah rasa tenang yang ditemukan di tengah kesibukan. Ia bisa berupa kabar rutin ke keluarga. Bisa jadi doa yang dibisikkan diam-diam. Atau sekadar harapan bahwa tahun depan semuanya lebih mudah.
Tapi, saat waktunya benar-benar tiba saat semua tugas beres dan tiket akhirnya di tangan rasanya memang lain. Tak ada yang bisa menandingi detik ketika kaki menapak halaman rumah setelah sekian lama. Semua lelah langsung terbayar lunas.
Sebagai Penutup
Untuk kamu yang tahun ini belum bisa pulang, ingat ini: kerinduanmu itu sah. Perasaanmu valid. Tapi keputusanmu untuk bertahan dan menyelesaikan kewajiban, itu juga mulia.
Kamu tak kurang mencintai rumah. Justru, kamu sedang menyusun batu bata untuk masa depan, pelan-pelan, agar nanti pulangmu bisa untuk selamanya.
Dan untuk keluarga di rumah, semoga ada ruang pengertian: kadang, anak yang tak pulang bukan karena lupa. Tapi karena dia sedang berjuang menjagai mimpi agar tetap menyala, untuk kalian semua.
Akhir tahun bagi perantau memang jarang tentang pesta. Ini lebih tentang kesabaran, kerinduan, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan, pada waktunya, akan berakhir di tempat yang paling dirindukan: rumah.
Artikel Terkait
Profesor UI Jelaskan Aturan Tipikor dalam KUHP Baru Tak Akan Seragam untuk Semua Sektor Bisnis
Delapan Takjil Khas Sulsel yang Wajib Ada Saat Berbuka Puasa
Mahfud MD Soroti Aparat Penegak Hukum sebagai Akar Masalah Utama
Menko Hukum Yusril Kecam Penganiayaan Remaja oleh Oknum Brimob di Tual