Di Indonesia, rasa cinta pada tanah air seringkali diukur dari volume suara. Semakin lantang seseorang menyanyikan lagu kebangsaan atau meneriakkan slogan, semakin nasionalis dia dianggap. Tapi ada ironi yang nyata di sini. Ketika cinta itu diwujudkan dengan cara yang tenang lewat ketertiban, ketaatan pada hukum, dan sikap damai justru sering menuai kecurigaan. Nah, di titik inilah kelompok Salafi kerap terjebak dalam kesalahpahaman yang mendalam.
Mereka tidak menjual nasionalisme dengan retorika yang menggugah emosi. Simbolisme berlebihan juga bukan gaya mereka. Tapi menyimpulkan bahwa Salafi tidak mencintai Indonesia hanya karena caranya yang tidak "berisik"? Itu adalah penilaian yang terburu-buru dan, jujur saja, keliru besar.
Cinta yang Tenang, tapi Konsisten
Dalam manhaj mereka, cinta pada negara tak diwujudkan lewat jargon. Lebih dari itu, ia tampak dalam komitmen menjaga stabilitas dan menghindari kerusakan. Prinsip Islam yang melarang membuat kekacauan (fitnah) dan mewajibkan menjaga kemaslahatan umum menjadi fondasi utamanya.
Karena itu, penolakan keras terhadap pemberontakan, kekerasan, dan konflik horizontal justru merupakan bukti nyata. Negara yang aman dan bertahan lama tidak lahir dari kegaduhan permanen, melainkan dari masyarakat yang tertib dan patuh pada aturan yang berlaku.
Kalau ukurannya adalah kontribusi pada stabilitas sosial, Salafi konsisten berada di barisan depan. Cinta mereka bukan sekadar wacana. Ini tecermin dari sikap para tokohnya.
Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, misalnya, dikenal sangat tegas menolak terorisme dan pemberontakan.
"Kewajiban kita adalah menjaga ketertiban dan menaati pemerintah dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat," begitu pesannya kerap disampaikan dalam berbagai ceramah.
Pola serupa bisa dilihat pada Ustaz Firanda Andirja dan Ustaz Abdul Hakim Abdat. Fokus mereka adalah dakwah ilmu, pembinaan akidah, dan pendidikan akhlak. Aktivitas mereka berpusat di majelis ilmu dan masjid, bukan di ruang agitasi politik. Sikap ini jelas menunjukkan bahwa Salafi tidak memandang negara sebagai musuh, tapi sebagai ruang hidup bersama yang harus dijaga.
Namun begitu, ketenangan semacam ini kerap luput dari perhatian. Mungkin karena tidak sensasional dan tidak memancing konflik, jadi jarang dianggap sebagai kontribusi yang berarti.
Dakwah Moral, Bukan Perebutan Kekuasaan
Cinta Salafi pada Indonesia juga terlihat dari orientasi dakwahnya. Fokus utama mereka sederhana: perbaikan individu. Mulai dari akidah yang lurus, ibadah yang benar, sampai akhlak yang baik. Logikanya mendasar: masyarakat yang bermoral akan melahirkan negara yang kuat.
Alih-alih sibuk mengejar kekuasaan atau memaksakan perubahan sistem, mereka memilih jalur pendidikan jangka panjang. Pendekatan ini mungkin terlihat kurang heroik. Tapi justru strategis. Sejarah membuktikan, negara jarang runtuh karena perbedaan pandangan. Lebih sering, kehancuran datang dari kekerasan dan kerusakan moral yang dibiarkan merajalela.
Sunyi dan Lelahnya Mencintai Negeri
Tapi tidak semua cinta terasa manis. Bagi sebagian Salafi, mencintai Indonesia justru kerap terasa sunyi dan, ya, melelahkan.
Di satu sisi, mereka diajarkan untuk taat hukum dan menolak segala bentuk kekerasan. Di sisi lain, setiap kali isu terorisme mencuat bahkan yang terjadi di belahan dunia lain kecurigaan langsung mengarah ke mereka. Mereka menolak ideologi kekerasan itu, tapi stigma tetap melekat kuat.
Ini paradoks yang menyakitkan. Mereka diminta setia, tetapi kesetiaannya sering dipertanyakan. Mereka tidak memberontak, tidak memprovokasi. Justru karena sikapnya yang "terlalu diam" itulah, mereka dianggap kurang layak dipercaya. Seolah-olah cinta itu harus selalu diteriakkan agar dianggap sah.
Yang lebih pahit, Salafi kerap dipaksa bertanggung jawab atas tindakan yang tidak mereka lakukan. Kesalahan segelintir orang dijadikan alasan untuk mencurigai seluruh komunitas yang hidup damai. Meski begitu, pilihan mereka tetap satu: bertahan pada jalur damai. Bukan karena lemah, tapi karena keyakinan bahwa merusak negeri sendiri atas nama apapun bukanlah bentuk cinta sejati.
Berdampingan, Bukan Bertentangan
Pada akhirnya, Salafi tidak memandang Indonesia sebagai entitas yang harus dilawan. Selama kebebasan beribadah dijamin dan hukum tidak memaksa pelanggaran akidah, negara adalah kesepakatan bersama yang sah. Nasionalisme tidak diposisikan sebagai tandingan iman.
Masalah baru muncul ketika nasionalisme dijadikan alat untuk menguji keimanan seseorang, atau ketika ketaatan beragama dicurigai sebagai ancaman politik terselubung.
Bentuk cinta Salafi pada Indonesia memang tidak hadir dalam sorak-sorai. Ia lebih banyak tampil dalam sikap hidup: tertib, damai, dan taat hukum seperti yang dicontohkan para tokohnya. Negeri ini tidak hanya butuh warga yang pandai berslogan, tapi juga warga yang dengan sadar memilih untuk tidak merusak. Dalam hal itu, Salafi sudah lama membuktikan bahwa setia pada agama dan mencintai negara bisa berjalan beriringan. Meski, seringkali, tanpa tepuk tangan.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah