Demokrasi Gugup: Ketika Teror Menggantikan Logika

- Minggu, 04 Januari 2026 | 05:50 WIB
Demokrasi Gugup: Ketika Teror Menggantikan Logika

Setiap krisis entah politik, kesehatan, atau sosial sering diikuti pola yang sama. Publik diminta untuk percaya, bukan memahami. Diminta patuh, bukan bertanya. Mereka yang mencoba menjelaskan kompleksitas justru dituduh membingungkan rakyat. Seolah-olah rakyat Indonesia cuma pantas diberi slogan, bukan penjelasan.

Ini penghinaan yang jarang disadari.

Lebih berbahaya lagi, teror naratif semacam ini menciptakan mimpi palsu: seakan-akan jika semua suara kritis dibungkam, Indonesia akan baik-baik saja. Bahwa ketenangan bisa dipaksakan. Bahwa stabilitas lebih penting daripada kebenaran. Padahal, sejarah Indonesia sendiri membuktikan sebaliknya. Ketika kritik dibungkam, masalah tidak hilang ia cuma menumpuk, sampai akhirnya meledak dengan cara yang jauh lebih merusak.

Logika sehat, yang sering dicibir sebagai idealisme akademis, justru menawarkan pendekatan paling realistis. Ia mengakui ancaman nyata, tapi menolak kepanikan yang artifisial. Ia menuntut bukti, bukan sekadar niat baik. Ia paham bahwa masyarakat yang dewasa tidak perlu ditakut-takuti agar bisa tertib.

Sayangnya, logika sehat itu tidak spektakuler. Ia tidak viral. Ia kalah cepat dibanding emosi. Di era media sosial sekarang, teror bekerja bukan cuma lewat kekuasaan formal, tapi juga lewat kerumunan digital yang siap menghakimi siapa pun yang berbeda. Intimidasi jadi urusan kolektif, bukan lagi monopoli negara.

Tapi justru di sinilah ujian kedewasaan demokrasi kita. Apakah kita akan membiarkan ruang publik dikuasai ancaman dan labelisasi? Atau kita berani menegaskan bahwa berbeda pendapat bukan kejahatan, dan bertanya bukan pengkhianatan?

Molière mengingatkan, Scapin hanya berkuasa selama orang-orang percaya pada dramanya. Begitu kepanikan digantikan oleh jarak kritis, tipu dayanya langsung kehilangan tenaga. Dalam konteks Indonesia, ini artinya kita harus menolak ikut serta dalam histeria kolektif. Menolak membagikan ancaman. Menolak mengamini pembungkaman yang dibungkus dengan moral.

Menjaga media agar tetap bebas, membiarkan pakar tetap bersuara, dan mendukung tokoh publik agar tetap berani itu bukan sikap oposisi semata. Itu adalah bentuk kesetiaan paling serius pada republik ini. Negara kita tidak dibangun oleh ketakutan, melainkan oleh keberanian untuk berpikir.

Pada akhirnya, teror terhadap nalar bukanlah tanda kekuatan Indonesia. Itu justru tanda kegugupan kita dalam menghadapi kedewasaan. Memang, demokrasi itu berisik, melelahkan, dan penuh perbedaan. Tapi alternatifnya ketenangan palsu yang dijaga dengan ancaman selalu berakhir lebih mahal.

Di tengah drama dan lelucon politik yang terus dipentaskan, mungkin sikap paling patriotik hari ini justru sederhana: tetap tenang, tetap berpikir, dan tidak menyerahkan akal sehat kita kepada siapa pun yang menawarkan rasa aman instan.

Karena republik ini tidak butuh lebih banyak ketakutan. Ia butuh lebih banyak keberanian untuk jujur.

Tabik.

(amk/ed-jaksat)


Halaman:

Komentar