Di Balik Stigma: Kisah Anak Tunggal yang Tak Pernah Sepenuhnya Sendirian

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 23:06 WIB
Di Balik Stigma: Kisah Anak Tunggal yang Tak Pernah Sepenuhnya Sendirian

Sayangnya, masyarakat masih suka menyederhanakan segalanya. Kalau anak tunggal mengambil jalan berbeda, langsung dibilang egois. Kalau lebih banyak diam, dicap antisosial. Padahal, di tengah dunia yang penuh tekanan dan kompetisi seperti sekarang, kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri justru jadi aset berharga. Ruang untuk bergantung sepenuhnya pada orang lain semakin sempit.

Menurut pengamatan saya sebagai mahasiswa, stigma ini muncul karena kita belum siap menerima keragaman cara tumbuh seseorang. Struktur keluarga sekarang kan nggak seragam. Ada yang punya banyak anak, ada yang memilih satu, dan ada juga yang memang tidak punya pilihan lain. Memaksakan satu standar kepribadian untuk semua justru membuat kita gagal memahami manusia secara utuh.

Intinya, menjadi anak tunggal tidak lantas membuat seseorang anti-sosial. Sama halnya, punya banyak saudara tidak otomatis menjadikan kamu penuh empati. Kepribadian dibentuk oleh banyak hal: lingkungan, pendidikan, pergaulan, dan tentu saja pengalaman hidup. Status sebagai anak tunggal hanyalah satu faktor kecil dalam perjalanan panjang itu.

Pada akhirnya, kami hanyalah manusia yang tumbuh dengan caranya sendiri. Belajar mencintai kesunyian tanpa menolak kebersamaan. Belajar mandiri tanpa menutup diri. Dan belajar untuk kuat, meski tidak selalu terlihat.

Mungkin yang lebih dibutuhkan sekarang bukan lagi pertanyaan klise tentang seperti apa anak tunggal itu. Tapi kesediaan untuk mendengar cerita mereka, tanpa prasangka yang sudah terbentuk bertahun-tahun.

Karena setiap anak tunggal atau tidak berhak dilihat sebagai manusia yang utuh. Bukan sekadar produk dari sebuah struktur keluarga.


Halaman:

Komentar