Lewat unggahan di Truth Social, Sabtu dini hari, Donald Trump membuat pernyataan yang menggemparkan. Mantan Presiden AS itu mengklaim Amerika Serikat telah melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela. Tak tanggung-tanggung, Trump juga menyebut pasukannya berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya.
"AS telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu," tulis Trump.
Operasi ini, menurutnya, digelar bersama aparat penegak hukum. Dia berjanji akan memberikan rincian lebih lanjut.
"Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS. Rincian lainnya akan menyusul. Akan ada konferensi pers hari ini pukul 11.00 waktu AS di Mar-a-Lago, Florida," lanjutnya.
Klaim Trump ini langsung memicu gelombang kehebohan. Dari sumber lain, seorang pejabat AS yang dikutip Reuters memberikan detail yang lebih spesifik. Katanya, penangkapan Maduro dilakukan oleh pasukan khusus elite AS, Delta Force.
Latar belakang aksi ini, setidaknya menurut versi pemerintahan Trump, adalah perang melawan narkoba. Mereka menuding Venezuela sebagai sumber kiriman obat-obatan terlarang ke Amerika. Serangan-serangan sebelumnya terhadap kapal-kapal yang dicurigai telah menelan ratusan korban jiwa.
Sudah lama AS menuduh Maduro menjalankan negara narkoba dan memanipulasi pemilu. Namun begitu, Maduro punya narasi yang berbeda. Sejak menggantikan Hugo Chavez pada 2013, dia kerap bersuara lantang. Menurutnya, semua ini hanyalah dalih. Target sebenarnya AS adalah menguasai cadangan minyak Venezuela yang terbesar di dunia.
Artikel Terkait
Dasco Minta Pemerintah Tunda Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap dari India
OSO Ungkap Kedekatan dengan Mahfud MD Berawal dari Persahabatan Lama dan Kesamaan Visi
DPR Desak Kapolri Bertindak Tegas Usai Rentetan Kasus Oknum Polisi
Indonesia dan AS Sepakati Perjanjian Dagang Resiprokal, Akses Tarif Nol Persen untuk Ribuan Produk