Matahari memanggang. Di kawasan industri Bahodopi, Morowali, suhu Jumat siang itu begitu menyengat. Tepat pukul satu, dentingan besi dan deru mesin di jetty PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tiba-tiba terhenti. Suara itu digantikan langkah ratusan sepatu boots yang menapak berirama. Mereka bergerak, bukan ke lokasi kerja, tapi menuju jalan layang urat nadi utama kawasan itu. Dengan tenaga yang sama untuk mengangkat material, mereka tutup akses. Roda truk kontainer berhenti. Detak jantung kawasan nikel terbesar dunia itu pun melemah seketika.
Ini adalah puncak dari ketidakpuasan yang sudah mendidih lama. Bahkan lebih panas dari tungku peleburan di dalam pabrik. Mereka berasal dari berbagai Pengurus Unit Kerja (PUK) di bawah Federasi Serikat Pekerja Industri Morowali (FSPIM). Solidaritas mereka mengalir untuk satu masalah: dugaan praktik "union busting" atau penghancuran serikat pekerja di PUK PT IMIP. Menutup jalan adalah bahasa terakhir yang mereka pilih. Sebab, ruang dialog bipartit, kata mereka, sudah lebih mirip monolog.
Namun begitu, ketenangan siang itu tak bertahan lama. Menurut sejumlah saksi, pihak keamanan perusahaan bersama aparat bergerak. Represi pun terjadi. Beberapa buruh di barisan terdepan harus berakhir dengan luka-luka. Ironisnya, manajemen disebut enggan bertemu perwakilan mereka secara langsung. Hanya sedikit tuntutan yang dikabulkan. Sementara itu, tuntutan inti pencabutan PHK terhadap sejumlah pekerja dan pimpinan serikat tetap ditolak mentah-mentah. Jalur perundingan yang buntu akhirnya meledak di jalan layang yang terisolasi itu.
Wajah dari tuntutan itu bernama Akmal.
“Cukup sudah manajemen PT. IMIP mempertontonkan sikap tidak kooperatifnya,” ujar Koordinator Lapangan aksi yang juga Ketua PUK PT IMIP itu lewat telepon, suaranya terdengar tegas di tengah riuh massa. Ia sendiri justru menjadi sasaran PHK sepihak.
Akmal menegaskan semua aksi ini demi hubungan industrial yang harmonis. Sebelumnya, mereka sudah coba jalur bipartit dan demo damai di depan kantor. Hasilnya? Tak digubris. PHK terhadap seorang ketua serikat dinilainya sebagai pentungan untuk membungkam suara kolektif buruh.
p>Aksi yang dimulai di terik siang akhirnya berakhir saat langit senja mulai berwarna jingga. Menjelang maghrib, massa bubar secara damai. Tapi mereka tinggalkan sederet tuntutan yang tercecer di aspal panas sebuah gambaran nyata dari problem di balik gemerlap ekspor nikel. Ini bukan cuma soal Akmal. Ini membuka tabir persoalan yang jauh lebih luas.Mari kita simak tuntutan mereka satu per satu. Pertama, pencabutan surat PHK untuk Akmal. Kedua, pengangkatan kembali anggota PUK yang kena PHK. Ketiga, sanksi tegas untuk Supervisor bernama Antona yang diduga bertanggung jawab. Keempat, ini soal perut: pemenuhan kebutuhan kalori untuk karyawan dengan jam kerja 12 jam, minta makan dua kali. Kelima, penerapan K3 yang profesional dan hentikan penggunaan alat kerja di luar standar. Poin ini menyentuh nyawa, mengingat risiko di kompleks industri ini sangat tinggi.
Masih panjang. Keenam, minta transparansi dalam kenaikan jabatan dan pengakuan keterampilan. Ketujuh, masalah kesehatan harus jadi otoritas dokter, hapus sanksi untuk karyawan usai sakit. Kedelapan, penuhi hak saudara Ratno (diduga karyawan security) sesuai anjuran Disnaker. Dan kesembilan, poin payung: penuhi semua hak dan fasilitas, tolak diskriminasi jam kerja, stop union busting, hentikan diskriminasi terhadap karyawan.
Daftar itu seperti konstitusi kecil untuk keadilan di tempat kerja. Mulai dari urusan perut, keselamatan jiwa, keadilan prosedural, hingga prinsip anti-diskriminasi. Aksi di Bahodopi mungkin sudah bubar, tapi gemanya masih bergaung. Ini menantang sebuah paradoks. Di satu sisi, IMIP adalah mesin pertumbuhan ekonomi dan devisa yang dahsyat. Di sisi lain, di dalam jantung mesin itu, ada manusia-manusia yang menuntut agar kemajuan tak dibangun dengan mengorbankan hak dasar mereka.
Senja telah tiba di Morowali. Jetty produksi mungkin besok akan kembali berdenyut. Tapi pertanyaan yang tertinggal jauh lebih berat dari bijih nikel. Apakah jalan dialog benar-benar sudah tertutup, sampai-sampai menutup jalan jadi satu-satunya bahasa yang didengar? Dan apakah harmoni industrial yang didambakan itu bisa terwujud, jika serikat pekerja justru dirasakan terancam?
Jawabannya tak tertulis dalam pernyataan pers mana pun. Ia akan terlihat dari tindakan nyata ke depannya, di antara tumpukan baja dan harapan ratusan buruh yang pulang dengan luka di tubuh dan di hati pada Jumat sore itu.
Artikel Terkait
Ahli Waris Protes Status Lahan, Proyek Stadion Sudiang Makassar Terhambat
Menag Bantah Gratifikasi, Klaim Penggunaan Jet Pribadi OSO untuk Acara Keluarga
Kejaksaan Sumsel Tahan Dua Mantan Direktur Keuangan Semen Baturaja Terkait Dugaan Korupsi
Mahfud MD Apresiasi KPK yang Kini Merambah Sektor Pajak dan Bea Cukai