Ingat masa kecil dulu? Tidur siang itu rasanya seperti hukuman. Dunia sedang seru-serunya, tapi kita malah disuruh masuk kamar, berhenti main, atau dipaksa mematikan televisi. Rasanya sungguh menyebalkan.
Namun begitu, setelah dewasa, semuanya terbalik. Sekadar bisa tidur siang sepuluh menit saja sudah bagaikan anugerah. Bahkan tidur lelap tanpa beban pikiran atau dering alarm pun jadi barang mewah. Makanya, tak heran kan kalau banyak orang dewasa yang kerap melontarkan kalimat, "pengen deh jadi anak kecil lagi." Atau mereka sibuk memuaskan inner child yang dulu terabaikan.
Dulu, bayangan kita tentang "dewasa" adalah puncak segala kebebasan. Bisa pergi ke mana saja sesuka hati, menentukan pilihan sendiri, dan terbebas dari segala aturan orang tua. Itu yang kita pikirkan.
Sayangnya, realitanya tak semanis itu. Kebebasan itu ternyata datang berbonus tanggung jawab yang berat, ditambah tuntutan dan tekanan sosial yang tak pernah sekalipun dijelaskan saat kita masih bocah. Baru di sinilah kita tersadar: tumbuh dewasa tak selalu seindah imajinasi masa kecil.
Dunia Dewasa dalam Imajinasi Bocah
Waktu kecil, orang dewasa itu sosok yang paling berkuasa. Mereka bisa keluar rumah kapan saja tanpa minta izin, nggak ada yang marahin kalau begadang, dan uangnya seolah tak terbatas untuk beli apa pun.
Dunia mereka terlihat sederhana: kerja, punya duit banyak, lalu hidup senang selamanya. Tekanan? Kegagalan? Itu hal yang sama sekali nggak pernah terbayang.
Kita dulu berani bermimpi tinggi. "Nanti kalau udah gede, aku mau jadi dokter!" atau "Aku pengen jadi astronaut!" Impian itu terasa dekat dan sangat mungkin digapai.
Tapi saat dewasa, mimpi-mimpi itu tiba-tiba terasa jauh sekali. Tertutup oleh realitas ekonomi, tuntutan keluarga, atau sekadar rasa takut yang tak pernah ada sebelumnya. Muncul pertanyaan yang menggerogoti, "Masih pantas nggak ya aku bermimpi segitu tinggi?"
Yang luput dari penglihatan kita waktu kecil adalah harga yang harus dibayar untuk kebebasan itu. Tanggung jawab atas diri sendiri, tekanan untuk tampil sempurna, dan beban pendidikan yang tiada henti. Dulu, kita nggak pernah membayangkan bahwa setiap konsekuensi dari pilihan kita akan jadi tanggungan pribadi. Makanya, saat sudah sampai di fase ini, banyak yang akhirnya menghela napas: realita ternyata jauh berbeda dengan imajinasi buatan masa kecil.
Artikel Terkait
Trump Ancam Turun Tangan di Iran, Teheran Balas dengan Peringatan Keras ke PBB
Tabrakan Maut di Tuban, Dua Tewas Usai Bus Nekat Menyalip
Jantung Nikel Morowali Berhenti Berdetak, Buruh Tutup Jalan Layang
Tiga Pemred Kompas Mengadili Roy Suryo, Ijazah Jokowi Kembali Mengudara