Banjir Akhir 2025: Duka yang Berulang dan Peringatan untuk 2026

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 01:06 WIB
Banjir Akhir 2025: Duka yang Berulang dan Peringatan untuk 2026

Peribahasa ‘sedia payung sebelum hujan’ sepertinya hanya jadi pepesan kosong. Menyambut 2026, ketahanan pangan dan lingkungan harus jadi prioritas mutlak. Jangan sampai hutan terus digunduli oleh keserakahan.

Faktanya, konflik agraria melonjak empat kali lipat sejak 2010. Konsesi sawit dan tambang menggusur komunitas lokal seenaknya. Ironisnya, petani kecil justru kerap dijadikan kambing hitam deforestasi, padahal kontribusi mereka di bawah 10%. Sementara itu, konglomerat yang menguasai 25% konsesi justru dapat perlindungan politik. Akibatnya, sekitar 70 juta masyarakat adat yang hidupnya bergantung pada hutan, kehilangan akses ke tanah leluhur mereka.

Karena itu, pemegang kekuasaan di tahun 2026 nanti harus lebih berhati-hati. Jangan asal kasih izin. Sudah sering terjadi, izin yang diberikan justru disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, dan rakyat kecil yang akhirnya menelan pil pahitnya.

Tapi jangan salah, tanggung jawab ini bukan cuma di pundak penguasa. Semua lapisan masyarakat harus terlibat. Kita perlu menghidupkan kembali kearifan lokal. Leluhur kita dulu memperlakukan hutan sebagai sahabat, bukan lawan. Hujan seharusnya jadi rahmat, bukan malah berubah jadi bencana. Alam ini makhluk hidup juga, hubungannya dengan manusia harus saling menghormati untuk menjaga keseimbangan.

Saya jadi teringat masa kecil dulu. Saat banjir datang, justru disambut girang karena banyak ikan yang bisa ditangkap. Sekarang? Begit ujan deras tiba, yang muncul langsung rasa was-was. Bahaya sudah di depan mata.

Margasatwa pun ikut merasakan dampaknya. Mereka ketakutan, kehilangan habitat, dan terpaksa keluar dari rumahnya. Kalau dibiarkan, perlahan-lahan mereka bisa punah. Semua ini akibat dosa kolektif dan keserakahan kita terhadap lingkungan.

[]


Halaman:

Komentar