Kuda Andong Jatuh di Malioboro, Pengurus Bantah Tudingan Kelelahan

- Jumat, 02 Januari 2026 | 23:36 WIB
Kuda Andong Jatuh di Malioboro, Pengurus Bantah Tudingan Kelelahan

Video seekor kuda andong terjatuh di Malioboro ramai beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, kuda terlihat ambruk dan sang kusir terlempar dari tempat duduknya. Suasana riuh pun langsung menyebar di linimasa.

Menurut Anggo Setiawan, Pengawas Koperasi Jasa Andong Wisata Yogyakarta, insiden ini terjadi Kamis sore lalu. Tapi, narasi yang beredar soal penyebabnya perlu diluruskan. Bukan kelelahan, kata dia.

“Kudanya sebenarnya biasa bekerja. Cuma, kalau lewat depan Garuda dan kawasan Sosrowijayan itu, dia kayak kurang nyaman. Nervous, gitu,” jelas Anggo via telepon, Jumat.

Andong dengan dua kuda itu baru saja mengantar penumpang. Karena rasa tak nyaman tadi, salah satu kuda mendadak menendang.

“Pakai kuda dua, kan ada sekat kayu di tengah sebagai setang. Nah, kuda sebelah kiri nendang, kaki kanannya malah melompati kayu sekat itu. Istilahnya ‘langkah bum’,” bebernya.

Akibatnya, kaki belakang kuda itu tersangkut. Dia pun tak bisa berdiri dengan sempurna.

Kusir pun turun untuk membetulkan posisi kaki kuda. Tapi siapa sangka, saat kakinya ditarik, kudanya malah lari kencang.

“Kusir mengambil sikap. Daripada menyebabkan kecelakaan yang lebih parah, dia coba arahkan andong ke kanan hingga rodanya nabrak trotoar. Akhirnya berhenti,” ujar Anggo.

Namun begitu, dalam proses pengeretan itu, kuda di sebelah kanan ikut terseret dan jatuh.

“Yang sebelah kanan yang nurut itu ikut kegeret. Jadi sekali lagi, ini bukan soal kelelahan. Kudanya sehat-sehat saja,” tegasnya.

Bagaimana dengan kondisi kudanya? Dipastikan aman dan baik-baik saja. Justru sang kusir yang mengalami cedera di kepala setelah sempat terpental.

“Kepalanya terbentur kepala kuda. Dia mengeluh pusing setelah kejadian,” jelas Anggo.

Setiap Kuda Punya Ketakutannya Sendiri

Anggo bercerita, tiap kuda punya pemicu nervous-nya masing-masing. Ambil contoh kuda miliknya sendiri yang selalu gelisah saat melewati perempatan pojok barat Sosrowijayan.

“Kuda itu punya karakter unik. Mungkin ada sesuatu di situ yang cuma mereka yang rasakan, kita kurang paham,” katanya.

“Bisa saja mereka melihat sesuatu yang tak kasat mata, atau mungkin punya memori buruk di tempat tertentu. Mereka hafal lokasi itu, dan jadi nervous setiap lewat,” ucap Anggo lagi.

Karena itu, kusir yang berpengalaman harus peka. Mereka harus menyesuaikan diri dan menenangkan kudanya saat melintasi titik-titik yang membuatnya panik.

“Reaksinya macam-macam. Ada yang bingung lalu lari kencang, ada yang berhenti mendadak, atau malah berbelok tiba-tiba. Itu yang kami sebut ‘nekuk’,” paparnya.

Jam Kerja Kuda Diatur Ketat

Anggo memastikan, tak ada praktik pemaksaan kerja pada kuda di koperasinya. Jam operasinya diatur bergiliran, tidak ada yang dipaksa kerja dari pagi sampai larut malam.

Beberapa andong beroperasi pagi buta, mencari wisatawan yang ingin menikmati kota di kala fajar. “Ada yang berangkat jam 5 pagi, jam 9 sudah dalam perjalanan pulang,” katanya.

“Yang lain baru mulai siang, pulang sore. Lalu ada juga yang memang giliran malam, melayani penumpang sampai larut,” tambah Anggo.

Koperasi mereka punya anggota hingga 302 kusir. Saat libur Nataru kemarin, sekitar 80 persen di antaranya aktif bekerja. Dan dari semua perjalanan itu, cuma satu kejadian jatuh seperti ini yang tercatat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar