“Kepalanya terbentur kepala kuda. Dia mengeluh pusing setelah kejadian,” jelas Anggo.
Setiap Kuda Punya Ketakutannya Sendiri
Anggo bercerita, tiap kuda punya pemicu nervous-nya masing-masing. Ambil contoh kuda miliknya sendiri yang selalu gelisah saat melewati perempatan pojok barat Sosrowijayan.
“Kuda itu punya karakter unik. Mungkin ada sesuatu di situ yang cuma mereka yang rasakan, kita kurang paham,” katanya.
“Bisa saja mereka melihat sesuatu yang tak kasat mata, atau mungkin punya memori buruk di tempat tertentu. Mereka hafal lokasi itu, dan jadi nervous setiap lewat,” ucap Anggo lagi.
Karena itu, kusir yang berpengalaman harus peka. Mereka harus menyesuaikan diri dan menenangkan kudanya saat melintasi titik-titik yang membuatnya panik.
“Reaksinya macam-macam. Ada yang bingung lalu lari kencang, ada yang berhenti mendadak, atau malah berbelok tiba-tiba. Itu yang kami sebut ‘nekuk’,” paparnya.
Jam Kerja Kuda Diatur Ketat
Anggo memastikan, tak ada praktik pemaksaan kerja pada kuda di koperasinya. Jam operasinya diatur bergiliran, tidak ada yang dipaksa kerja dari pagi sampai larut malam.
Beberapa andong beroperasi pagi buta, mencari wisatawan yang ingin menikmati kota di kala fajar. “Ada yang berangkat jam 5 pagi, jam 9 sudah dalam perjalanan pulang,” katanya.
“Yang lain baru mulai siang, pulang sore. Lalu ada juga yang memang giliran malam, melayani penumpang sampai larut,” tambah Anggo.
Koperasi mereka punya anggota hingga 302 kusir. Saat libur Nataru kemarin, sekitar 80 persen di antaranya aktif bekerja. Dan dari semua perjalanan itu, cuma satu kejadian jatuh seperti ini yang tercatat.
Artikel Terkait
Demokrasi Terengah-engah, Ekonomi Merangkak: Potret Retak Pemerintahan Daerah
Dosen Gugat UU, Hak Hidup Layak Dipertaruhkan di Meja Hijau
Mobil Toyota Agya Meledak Jadi Bara di Halaman SMK Sragen
Ledakan Pipa Gas TGI Guncang Dusun Nibul, Api Membubung 15 Meter