Indonesia sendiri sudah merasakan alarm kerasnya. Kerusuhan demonstrasi Agustus 2025 lalu, menurut analisis Amir, banyak digerakkan oleh Gen Z yang terinspirasi perlawanan di negara lain. Pemicunya klasik: isu ekonomi dan ketimpangan. Kabar kenaikan gaji dan tunjangan DPR di saat yang sulit ibarat bensin yang disiram ke bara.
"Bagi Gen Z, isu itu sangat simbolik. Mereka sulit kerja, harga mahal, tapi wakil rakyat menaikkan fasilitas. Itu dianggap tamparan," ujarnya.
Memasuki 2026, ancaman belum berakhir. Ada isu laten lain yang berpotensi dimanfaatkan: penerapan KUHP baru. Di media sosial, wacana ini kerap dibingkai sebagai ancaman kebebasan sipil. Padahal, secara konstitusional, masih ada ruang untuk uji materi di Mahkamah Konstitusi.
Namun begitu, Amir mengingatkan, realitas di lapangan sering berbeda. "Masalahnya bukan di hukumnya saja, tapi di narasinya. Jika publik khususnya Gen Z sudah percaya ini mengekang kebebasan, maka jalur konstitusi sering kali kalah cepat dibanding mobilisasi jalanan," paparnya.
Rumusnya bisa jadi sangat berbahaya: ekonomi yang lesu, ditambah isu kebebasan yang sensitif, lalu diperkuat oleh provokasi di dunia digital. Itu kombinasi yang rawan meledak.
Faktor pemicu lainnya? Ucapan pejabat. Satu pernyataan yang terdengar arogan atau meremehkan, bisa dengan cepat viral dan berubah menjadi simbol perlawanan. Gen Z, kata Amir, sangat reaktif terhadap bahasa kekuasaan. Di era sekarang, komunikasi politik yang gagal bisa berakibat lebih fatal daripada kebijakan yang keliru sekalipun.
Peringatan ini, ditegaskan Amir, bukan untuk menakut-nakuti. Ini lebih sebagai sistem peringatan dini. Dia punya beberapa saran konkret untuk pemerintah.
Pertama, pemulihan ekonomi riil harus jadi prioritas, terutama terkait lapangan kerja untuk anak muda. Kedua, perbaiki komunikasi publik, jauhi narasi yang elitis dan jaga empati. Ketiga, kelola isu sensitif terutama soal kebebasan sipil secara hati-hati sejak dini. Keempat, pantau dinamika media sosial. Bukan untuk membungkam, tapi untuk benar-benar memahami akar keresahan yang ada.
"Gen Z bukan musuh negara. Mereka adalah indikator," pungkas Amir Hamzah.
"Jika mereka marah, berarti ada yang salah dalam pengelolaan negara."
Artikel Terkait
Dibalik Pujian: Lelah yang Tak Terungkap dari Mahasiswa yang Bekerja
Kuda Andong Jatuh di Malioboro, Pengurus Bantah Tudingan Kelelahan
Gempa 6,5 Magnitudo Guncang Meksiko, Presiden Sheinbaum Batal Konferensi Pers
Misteri Kematian Satu Keluarga di Warakas: Polisi Periksa Enam Saksi