Di sisi lain, kisah serupa datang dari Arnis, pemilik Rumah Makan Salero Awak. Baru enam hari ini ia bisa kembali berjualan setelah melalui proses pembersihan yang amat melelahkan.
“Tiga minggu (pembersihan). Seminggu kita dengan nyorong (bersihkan) lumpurnya saja,” kenang Arnis pada suatu Jumat di awal Januari.
Lumpurnya, kata dia, mencapai ketinggian satu meter. Isi rumah makan berantakan, peralatan berserakan. Meja menumpuk di atas meja, lemari terpelanting. Melihat kerusakan itu, sedih pasti. Tapi Arnis memilih untuk tegar. “Itu hanya titipan kan. Kita kembalikan saja ke Yang Kuasa,” ucapnya.
Namun begitu, ada satu hal yang akhirnya mendorongnya bangkit: rasa tanggung jawab pada karyawannya. Dari 15 orang yang bekerja dengannya, banyak yang adalah janda dan kondisi ekonominya pas-pasan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian besar justru kehilangan rumah mereka sendiri akibat bencana yang sama.
“Dengan nengok pada karyawan saya, rata-rata rumahnya hilang. Habis. Itulah yang membuat ibu bangkit. Rasa kemanusiaan,” tutur Arnis dengan suara bergetar.
Dengan bantuan petugas PU dan relawan, rumah makannya perlahan bisa beroperasi. Omzet mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski belum seperti dulu. Tapi bagi Arnis, ini sudah menjadi secercah harapan.
“Alhamdulillah omzetnya bagus. Walaupun dengan keterbatasan,” katanya. Ia pun optimis, “Insyaallah ada kehidupan baru di balik musibah ini.”
Dua cerita ini, dari Rina dan Arnis, mungkin hanya secuil dari banyak perjuangan di Aceh Tamiang. Tapi di dalamnya, terpancar jelas semangat untuk terus maju, bangkit, dan menyambung kembali nafas kehidupan.
Artikel Terkait
Longsor Proyek Futsal di Sumedang Tewaskan Empat Pekerja
Prabowo Gelar Rapat Tertutup, Beri Penugasan Khusus ke Dasco dan Staf Inti
Risma Blusukan ke Sumbar, Turun Langsung Keruk Lumpur dan Bagikan Bantuan
Tragedi Warakas: Tiga Jenazah Ditemukan dengan Mulut Berbusa dan Ruam Misterius