Warung Kopi dan Rasa Kemanusiaan: Kisah Bangkitnya Aceh Tamiang dari Sisa Lumpur

- Jumat, 02 Januari 2026 | 19:30 WIB
Warung Kopi dan Rasa Kemanusiaan: Kisah Bangkitnya Aceh Tamiang dari Sisa Lumpur

Setelah sekitar sebulan diterjang banjir dan longsor, denyut ekonomi di Aceh Tamiang mulai berdetak lagi. Di tengah sisa-sisa lumpur dan upaya perbaikan, warung kopi dan mi milik Rina Riana pun kembali buka. Ia memutuskan untuk kembali berjualan meski segalanya belum pulih sepenuhnya.

“Alhamdulillah sudah pemulihan. Sudah lima hari (berjualan),” ujar Rina.

Ia mengaku, kondisi normal memang belum tercapai. Semuanya berjalan bertahap. Tembok warungnya sempat jebol diterjang air. Tapi, kerusakan itu tak mematahkan semangatnya. Baginya, warung ini adalah pintu rezeki dan cara untuk kembali menata hidup.

“Kalau menu untuk makanan, alhamdulillah sudah (lengkap). Tapi kalau untuk perkopian itu ada yang belum karena kita pake kopi mesin biasanya, itu belum kita ada,” paparnya.

Keterbatasan masih ada di mana-mana. Sinyal telepon seluler sudah normal, katanya, tapi jaringan wifi belum terpasang kembali. Meski begitu, Rina berusaha melayani sebaik mungkin. Dan pelanggan pun mulai berdatangan. Rupanya, warga sekitar sudah rindu suasana nongkrong setelah sekian lama hidup dalam kondisi darurat.

“Sudah lumayan, mungkin karena mereka bosen juga ya makan mi dan telur terus,” ceritanya sambil tertawa.

Soal harga, ia berusaha menahan diri. Tak mau menaikkan tarif, mengingat kondisi ekonomi pelanggannya yang juga sedang berjuang. “Masih harga-harga normal,” katanya. Omzet? Jelas belum bisa dipastikan. Tapi bagi Rina, yang penting adalah langkah pertama sudah diambil. “Harus bangkit kan,” ujarnya penuh keyakinan.

Kebangkitan dari Lumpur Setinggi Satu Meter


Halaman:

Komentar