Jokowi sepertinya ingin menebusnya di ujung masa jabatannya. AHY akhirnya ditunjuk jadi Menteri ATR/BPN. Tapi, Moeldoko tak pernah mendapat sanksi. Ia tetap menjabat sampai periode berakhir. Jadi, pengangkatan AHY itu sulit disebut sebagai balas budi. Apalagi itu terjadi setelah Demokrat ikut mendukung kemenangan Gibran. Masa-masa sulit itu terpaksa dilewati SBY sendirian.
Kendati hubungan personal SBY dan Jokowi disebut sangat baik seperti ditegaskan Andi Arief saat memperingatkan pihak yang mengaitkan kasus ijazah dengan SBY tapi nuansa politiknya berbeda. Agaknya Demokrat sedang memulai manuver di awal tahun ini. Dan manuver mereka mirip dengan langkah yang dulu diambil Jokowi dalam kasus yang sama.
Persis seperti itu. SBY memulai tahun dengan somasi terhadap pihak-pihak yang menyeret namanya dalam kasus ijazah. Biasanya, somasi akan diikuti laporan ke polisi. Kalau sudah sampai situ, akhirnya jadi tak terprediksi lagi. Semua pihak saling berhimpitan, situasi makin dinamis dan ruwet.
Tapi kubu Jokowi tak tinggal diam. Mereka sepertinya tak rela SBY meniru langkah politik bos mereka. SBY langsung dicap “cemen”. Baru segitu saja sudah main somasi dan jalur hukum. Bandingkan dengan Jokowi, katanya. Dihina macam-macam tetap tenang. Baru setelah ijazah dibilang palsu, dia bergerak.
Lantas, apa harus menunggu ada yang menuduh ijazah SBY palsu dulu, baru boleh ke pengadilan? Memang sulit kalau orang enggan bercermin.
(")
Artikel Terkait
Arus Balik Libur Tahun Baru 2026: 155 Ribu Kendaraan Serbu Jakarta
Lebih dari 16 Ribu Korban Banjir Sumatera Pilih Uang Tunai Daripada Hunian Darurat
Bentrokan Berdarah Guncang Iran, Enam Tewas dalam Gelombang Kerusuhan Terbaru
Gen Z dan Ancaman Gelombang Protes yang Bisa Menggoyang Pemerintahan Baru