Rizal Ramli dan Ecoterrorism
Oleh: Syafril Sjofyan
Bencana ekologis di Sumatera tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Banjir bandang, tanah longsor, dan jutaan gelondong kayu yang tumpah ruah di Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah bukti nyata dari pengundulan hutan yang masif. Angka korban per 31 Desember 2025 sungguh memilukan: 1.154 jiwa meninggal, sekitar 165 orang masih hilang, dan lebih dari 378 ribu pengungsi terpaksa bertahan di posko-posko darurat.
Daya rusaknya luar biasa. Semua berawal dari keserakahan, terutama ulah para pengusaha dan pemberi izin. Di balik angka-angka itu, ada ribuan nyawa yang hilang. Belum lagi infrastruktur hancur berantakan jalan, jembatan, sekolah, kantor, jaringan listrik. Banyak yang kehilangan rumah, lahan sawah, perkebunan, dan mata pencaharian. Sungguh situasi yang memprihatinkan.
Melihat kehancuran lingkungan Sumatera yang begitu dahsyat, saya teringat pada almarhum Rizal Ramli. Hari ini, 2 Januari, genap dua tahun ia meninggalkan kita. Yang menarik, jauh di tahun 1990-an, saat isu lingkungan masih dianggap elitis, Rizal sudah menulis panjang lebar di majalah Tempo. Tulisannya membahas etika dan politik lingkungan dengan sangat mendalam.
Rocky Gerung, sahabat dekat Rizal, mengungkapkan hal menarik dalam buku “Mengenang Rizal Ramli”.
Menurut Rocky, Rizal bahkan yang pertama kali memperkenalkan istilah "Ecoterrorism". Gagasan radikal ini dimaksudkan untuk membuat para perusak hutan jera. Ide itu kemudian disebarluaskan Rocky ke publik.
Di sisi lain, Rocky menilai Rizal punya visi jauh ke depan. Gagasan awal tentang ekonomi berkelanjutan justru berasal darinya. Rizal melihat bukan hanya ekonomi, tapi juga ekologi melalui pendekatan deep ecology. Jarang sekali ekonom makro mau berbicara tentang etika lingkungan seperti itu.
Rizal juga punya istilah khas: "Pengpeng". Istilah ini merujuk pada kolaborasi rapat antara Penguasa dan Pengusaha. Sebuah upaya mengingatkan bahaya ketika kekuasaan ditempeli kepentingan bisnis. Presiden Prabowo sendiri mengaku Rizal adalah sahabatnya. Sayang, sang pemberi peringatan itu sudah tiada.
Artikel Terkait
Sunyi yang Berbicara: Ketika Ulama Minang Menjinakkan Euforia Tahun Baru
Puncak Macet Parah, Polisi Terapkan Sistem Satu Arah
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan
Pemilik Warung Steak Kalibata Dipanggil Polda, Kerugian Hampir Rp 100 Juta