Dari Ruangan Sepi ke Balai Kota: Zohran Mamdani dan Loncatan Sejarah New York

- Jumat, 02 Januari 2026 | 07:20 WIB
Dari Ruangan Sepi ke Balai Kota: Zohran Mamdani dan Loncatan Sejarah New York

Dari Jajak Pendapat 1% ke Balai Kota: Zohran Mamdani Resmi Jadi Walikota NYC

Oleh SHAUN KING (Mualaf, Aktivis Muslim AS)

Belum genap setahun lalu, saya melihatnya berbicara di sebuah ruangan yang nyaris sepi perhatian. Kini, pria itu sudah jadi Walikota New York City bahkan mungkin politisi paling populer di Amerika saat ini.

Ya, tadi malam Zohran Kwame Mamdani resmi dilantik. Dan jujur saja, sepanjang acara saya terus teringat sebuah momen di Long Island kurang dari setahun silam. Sampai sekarang, ingatan itu masih bikin saya geleng-geleng sambil tersenyum.

Saat itu saya jadi pembicara utama di pertemuan sekitar seribu Muslim, kebanyakan dari Asia Tenggara. Zohran juga ada di sana. Tapi ia begitu tidak dikenal, sampai-sampai manajer kampanyenya harus memohon agar dia diizinkan masuk. Jajak pendapat saat itu hanya memberinya 1% dukungan, jauh di belakang walikota petahana dan mantan gubernur. Bagi hampir semua orang di ruangan itu, kemenangan Zohran bukan cuma mustahil tapi bertahan tanpa kekalahan telak pun sudah dianggap sukses besar.

Mengapa momen itu begitu membekas?

Begini ceritanya. Zohran naik panggung beberapa menit sebelum saya. Dan bisa dibilang, hampir tak ada yang benar-benar menyimak. Tak ada yang berebut berjabat tangan. Tak ada antrean foto. Pandangan orang-orang padanya penuh rasa kasihan, seperti melihat seseorang yang nekad mengejar mimpi mustahil. Sekarang kedengarannya lucu, tapi itu pelajaran nyata tentang betapa cepatnya hidup bisa berbalik ketika pintu dibuka.

Lalu tiba-tiba, tadi malam terjadi.

Pelantikannya digelar tepat setelah tahun baru, 1 Januari 2026. Acaranya privat, diadakan di stasiun kereta bawah tanah Balai Kota tua yang sudah lama terbengkalai. Tempat itu seperti peninggalan tersembunyi lengkungan berubin dan lampu gantung klasik masih tergantung, tersembunyi di bawah tanah bagai sejarah yang tertidur.

Letitia James yang memimpin sumpah jabatan.

Zohran meletakkan tangan kirinya di atas dua Al-Quran yang dipegang istrinya, Rama Duwaji. Satu adalah milik kakeknya, satunya lagi milik Arturo Schomburg, sejarawan kulit hitam yang namanya melekat di Harlem dan sejarah intelektual Afrika-Amerika. Lalu, dengan tangan kanan terangkat, dia mengucapkan sumpah.

Ini bukan sekadar ritual. Ini pernyataan.

Pernyataan tentang siapa yang berhak berada di sini. Tentang seperti apa New York seharusnya. Dan untuk siapa kota ini dibangun.

Simbolisme itu terasa sangat kuat di Desember 2025, ketika Amerika dilanda badai politik di era Trump, dan ketika banyak orang khususnya Muslim diberi pesan halus maupun terang-terangan untuk mengecil, melunak, dan diam.

Zohran justru melawan arus. Dia maju.

Kemenangannya adalah kisah cepat nan dramatis. Didorong oleh pesona, kecakapan bermedia sosial, dan fokus yang tak goyah pada isu keterjangkauan. Bagi warga New York biasa, itulah yang paling penting. Bukan debat ideologi tinggi. Tapi sewa rumah yang tak menguras kantong. Layanan penitipan anak. Transportasi umum. Soal bertahan hidup dan martabat.

Dan itu mengantar pikiran saya kembali ke ruangan di Long Island.

Saya pernah berkali-kali berada di ruangan semacam itu. Di mana seseorang membawa sesuatu yang bersejarah berdiri tepat di depan mata tapi orang-orang belum bisa melihatnya. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena imajinasi mereka sudah tumpul oleh kekecewaan bertahun-tahun.

Sinisme memang begitu. Ia mengunci masa depan.

Kisah Zohran mengingatkan kita bahwa masa depan tak pernah benar-benar terkunci.


Halaman:

Komentar