Hilirisasi Karet: Jalan Keluar dari Jerat Ekspor Mentah bagi Petani

- Jumat, 02 Januari 2026 | 00:06 WIB
Hilirisasi Karet: Jalan Keluar dari Jerat Ekspor Mentah bagi Petani

Dampak kewilayaannya juga signifikan. Bayangkan jika industri pengolahan skala menengah berdiri di sentra-sentra karet. Pertumbuhan ekonomi lokal bakal terdongkrak, biaya logistik turun, dan lapangan kerja baru tercipta. Nilai tambahnya tidak lagi mengalir deras ke kawasan industri besar atau luar negeri, tapi juga menguatkan ekonomi daerah penghasil.

Perkembangan global turut mendesak langkah ini. Munculnya regulasi lingkungan ketat, seperti kebijakan bebas deforestasi Uni Eropa, menuntut sistem produksi yang tertelusur. Rantai pasok hilir yang lebih pendek dan terkendali di dalam negeri akan memudahkan pemenuhan standar itu. Beban kepatuhan yang selama ini membebani petani kecil pun bisa dikurangi.

Meski demikian, semua ini tak akan jalan tanpa peran aktif negara. Pengembangan industri hilir butuh dukungan kebijakan yang konsisten: insentif fiskal, kemudahan pembiayaan, hingga perlindungan pasar. Petani juga perlu didukung untuk meningkatkan kualitas bahan baku dan akses pembiayaan. Tanpa intervensi yang terarah, hilirisasi cuma jadi wacana yang tak pernah menyentuh tanah.

Sebagai organisasi yang mewakili petani, Apkarindo punya pandangan jelas.

“Bagi kami, hilirisasi adalah sarana memperkuat posisi petani dalam rantai nilai. Bukan sekadar proyek industrialisasi semata,” begitu kira-kira suara yang kerap disampaikan.

Hilirisasi yang berhasil harus mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga keberlanjutan kebun rakyat, dan sekaligus memperkuat daya saing karet nasional.

Pada akhirnya, Indonesia harus keluar dari ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Untuk karet, hilirisasi adalah langkah strategis menuju industri yang lebih tangguh dan berkeadilan. Dengan pendekatan inklusif dan kebijakan yang tak plin-plan, langkah ini bisa jadi fondasi kokoh bagi petani sekaligus ekonomi nasional.


Halaman:

Komentar