Udara Istanbul pada Kamis pertama di tahun 2026 terasa menusuk tulang. Tapi itu sama sekali tidak menghentikan langkah ratusan ribu orang yang membanjiri Jembatan Galata. Mereka datang untuk satu tujuan: menyuarakan amarah atas apa yang mereka sebut sebagai genosida di Gaza. Gencatan senjata? Bagi mereka, itu hanyalah ilusi, sebuah jeda yang tak membawa perubahan berarti bagi penderitaan warga Palestina.
Bendera Palestina dan Turki berkibar di tengah kerumunan yang padat. Aksi ini digelar oleh Platform Kehendak Nasional, didukung penuh oleh berbagai klub sepak bola ternama Turki. Slogannya tegas, "Kami tidak akan diam, kami tidak akan melupakan Palestina." Dukungannya massif lebih dari 400 organisasi masyarakat sipil turut serta, menjadikannya salah satu unjuk rasa pro-Palestina terbesar di Turki belakangan ini.
Menurut sejumlah saksi, suasana di sana lebih mirip gelombang manusia. Jembatan bersejarah itu penuh sesak, jalan-jalan di sekitarnya juga tak kalah ramai.
Dursun Ozbek, Ketua Galatasaray, bersuara lantang. Lewat sebuah pesan video, ia menyebut aksi Israel sebagai ujian moral bagi seluruh dunia.
"Kami tidak akan terbiasa dengan keheningan ini," tegasnya. "Bersatu melawan penindasan, kami berkumpul di sisi yang sama untuk kemanusiaan."
Laporan dari lapangan menyebut angka partisipan mencapai sekitar setengah juta orang, seperti dikabarkan sumber kepolisian dan kantor berita Anadolu. Nuansa narasinya jelas: ini adalah potret solidaritas yang melampaui batas politik biasa.
Sinem Koseoglu, koresponden Al Jazeera yang meliput langsung dari lokasi, mengamati hal serupa. Ia mencatat bahwa isu Palestina masih menjadi konsensus nasional di Turki, menyatukan pendukung pemerintah dan oposisi.
"Hari ini orang-orang berusaha menunjukkan dukungan mereka pada hari pertama tahun baru," ujarnya, sambil melihat kerumunan yang terus membesar.
Acara berlangsung khidmat namun penuh semangat. Ada pidato-pidato, lalu kemudian penampilan Maher Zain. Penyanyi kelahiran Lebanon itu membawakan lagu "Free Palestine", disambut oleh lautan bendera yang berkibar-kibar.
Namun begitu, di balik kemeriahan itu, ada ketidakpercayaan yang mendalam. Banyak pengunjuk rasa yang menolak mentah-mentah narasi gencatan senjata yang digaungkan.
"Orang-orang di sini tidak percaya pada gencatan senjata," jelas Koseoglu lagi. Mereka memandangnya bukan sebagai perdamaian, melainkan sebagai "proses genosida yang berlangsung secara perlahan."
Di sisi lain, tekanan terhadap pemerintah Turki untuk berbuat lebih jauh juga terasa. Meski Ankara telah menghentikan perdagangan dengan Israel dan menutup akses udara serta pelabuhan, bagi banyak demonstran, langkah itu dinilai masih terlalu simbolis.
Yang mereka inginkan adalah tekanan internasional yang berkelanjutan. Intinya sederhana: menunjukkan solidaritas dan memastikan dunia tidak melupakan Gaza. Seperti peringatan Koseoglu, gencatan senjata saat ini dianggap sangat rapuh dan kerumunan di Jembatan Galata itu adalah bukti nyata bahwa banyak orang yang tak mau tinggal diam.
Artikel Terkait
Rooney Ingatkan Risiko Euforia United Strands, Cunha Tegaskan Fokus Hanya pada Poin
Tyler Morton Ungkap Kurangnya Kepercayaan dari Arne Slot Sebabkan Hengkang ke Lyon
Persib Dikabarkan Intip Kiper Belanda Ronald Koeman Jr.
Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Sukabumi, Dirasakan di Piru