Seri Kediri Bertumbuh kali ini mengajak kita menelusuri kembali jalur spiritual kota itu. Fondasinya, dari kesunyian goa hingga riuh rendah pesantren, yang membuat pertumbuhan Kediri tetap punya akar.
Sebuah kota tak cuma tumbuh karena gedung, jalan, atau jaringan ekonominya. Ia bertumbuh karena punya kesadaran tentang dirinya sendiri tentang asal-usul dan nilai yang ingin dipertahankan sambil melangkah maju. Kediri, contohnya, bertahan bukan karena gegap gempita. Kemampuannya merawat ingatan kolektiflah yang membuatnya kokoh.
Sejarah kota ini bukan dibangun dari satu lapisan waktu. Melainkan dari tumpukan laku yang saling bertaut; laku batin, sosial, dan kebudayaan.
Melalui ruang sunyi pertapaan hingga ruang komunal pendidikan, Kota ini belajar merawat peradaban. Dari proses panjang itulah lahir karakter kota yang reflektif. Tidak tergesa ikut arus, tapi juga tak beku menolak perubahan.
Goa Selomangleng dan pondok pesantren mungkin tampak seperti dua dunia berbeda. Yang satu sunyi dan personal, yang lain komunal dan sosial. Tapi keduanya terhubung oleh benang merah yang sama: pencarian makna hidup dan etika keberadaan.
Goa Selomangleng: Ruang Sunyi Tempat Etika Dilahirkan
Kalau mau menarik awal perjalanan spiritual Kediri, goa-goa pertapaan adalah pintu masuknya. Di ruang sunyi inilah masyarakat Kediri dulu belajar menata hubungan antara diri, kekuasaan, dan kehidupan.
Goa Selomangleng bukan cuma situs sejarah atau objek wisata. Ia adalah ruang perenungan. Dalam budaya Jawa, bertapa berarti menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Untuk menata batin sebelum kembali menjalani hidup.
Kisah Dewi Kilisuci yang memilih bertapa dibanding naik tahta sering disebut legenda. Tapi dalam kosmologi Jawa, pilihan itu adalah pernyataan etis. Kekuasaan tanpa pengendalian diri dianggap rapuh.
Ong Hok Ham pernah menjelaskan dalam tulisannya, kewibawaan pemimpin Jawa tidak bersifat legal-formal seperti dalam sistem Barat. Melainkan bersumber dari kedalaman spiritual.
Goa sebagai ruang fisik memperkuat makna itu. Sunyi, gelap, dan terbatas. Ia memaksa manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Di kesunyian itu, keputusan besar diambil bukan dari ambisi, tapi dari kejernihan batin.
Nilai inilah yang membentuk etika awal Kediri. Bahwa kemajuan harus diawali kemampuan menahan diri. Kesadaran ini kelak membentuk karakter yang tak mudah silau oleh kekuasaan atau kemegahan semu.
Brantas: Spiritualitas yang Mengalir
Kesunyian pertapaan tak berhenti di ruang batin. Ia bergerak mengikuti alur kehidupan, menemukan ruang sosialnya pada Sungai Brantas. Dari sinilah spiritualitas Kediri mulai mengalir keluar, bertemu manusia lain dan kepentingan bersama.
Sejak masa Hindu–Buddha, Sungai Brantas sudah jadi arteri pergerakan manusia. Ia menghubungkan pedalaman Kediri dengan pesisir utara Jawa. Ketika Islam berkembang di pesisir Gresik, Tuban, Surabaya Brantas jadi jalur alami yang membawa pedagang, ulama, dan jaringan sosial baru.
Denys Lombard menyebut sungai-sungai besar di Jawa sebagai corridors of culture. Jalur tempat agama, ide, dan praktik hidup saling bertemu tanpa paksaan.
Di sepanjang Brantas tumbuh bandar sungai dan permukiman padat. Di titik-titik inilah Islam pertama kali berakar, karena bandar sungai bersifat terbuka dan kosmopolitan. Spiritualitas yang sebelumnya berpusat pada ruang sunyi pertapaan akhirnya mengalir ke ruang sosial.
Islam hadir di Kediri sebagai etika hidup; kejujuran berdagang, disiplin waktu, dan solidaritas sosial. Nilai-nilai itulah yang mudah diterima komunitas bandar.
Islam di Kediri: Diterima Perlahan, Menyatu dengan Budaya
Masuknya Islam ke Kediri berlangsung lama, nyaris tanpa gejolak. Islam tak hadir sebagai kekuatan yang memutus tradisi lama. Tapi sebagai cara baru untuk memaknainya. Inilah yang membuat Islam di sini tumbuh alami.
Artikel Terkait
Tragedi Api di Crans-Montana: Pesta Tahun Baru Berubah Jadi Malapetaka
Tragedi Api di Bar Swiss, Pesta Tahun Baru Berujung Duka
Rem Blong di Turunan Sendi, Elf Wisata Terbalik dan Lukai 16 Penumpang
Bahasa Birokrasi yang Mengasingkan: Ketika Pemerintah Lupa Bercerita