“Ini berkontribusi untuk meningkatkan dampak baik itu korban jiwa, maupun infrastruktur akibat bencana di 2025,” jelas Abdul.
Secara total, BNPB mencatat ada 3.223 kejadian bencana sepanjang tahun lalu. Tapi kalau ditelisik mana yang paling banyak menyumbang korban jiwa dan kerusakan rumah, jawabannya tetap banjir dan tanah longsor dengan kontribusi besar dari kejadian di Sumatera.
“Kalau kita lihat dari kejadian bencana apa saja yang paling signifikan dalam kontribusi di angka korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, khususnya rumah, itu adalah banjir dan tanah longsor. Kontribusinya dari kejadian di Sumatera,” paparnya.
Namun begitu, Abdul Muhari mengingatkan bahwa peningkatan ini bukan semata-mata soal hujan yang turun lebih deras. Ada faktor lain yang lebih mendasar dan mengkhawatirkan.
Ia menekankan bahwa penurunan daya dukung lingkungan, terutama di area lereng, memegang peranan krusial. Kondisi tanah sudah semakin rentan.
“Kondisi-kondisi kelerengan ini sudah mulai sangat rentan, sehingga benar-benar kita harus melihat ulang tata ruang dan peruntukan lahan,” tutupnya. Sebuah peringatan yang jelas, bahwa alam mungkin sedang memberikan sinyal terakhirnya.
Artikel Terkait
Gelombang Solidaritas di Jembatan Galata: Istanbul Tolak Diam Atas Gaza
Hari Kedelapan Pencarian: Basarnas Perpanjang Misi Selamatkan Pelatih Valencia dan Anaknya di Labuan Bajo
Kediri Bertumbuh: Dari Sunyi Goa hingga Riuh Pesantren
Tawuran di Terowongan Manggarai Ricuh, Kembang Api dan Pecahan Kaca Bikin Pengendara Terjebak