Sebagai contoh, Prabowo bercerita tentang diskusinya dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem. Dalam pertemuan-pertemuan itu, semua kebutuhan dan masalah di lapangan coba dirangkum untuk dicarikan solusi.
"Saya datang ke gubernur, 'Pak saya butuh ini, butuh ini', kan begitu ceritanya. Tapi mudah-mudahan saya percaya dengan bukti," bebernya.
Pesan itu kemudian ia sampaikan ulang kepada semua jajaran. "Jadi saya sampaikan ke saudara, para pimpinan, para menteri, kepala, badan, gubernur semua."
Di sisi lain, Prabowo tampaknya menyadari betul bahwa memimpin di tengah krisis selalu rentan terhadap cercaan. Namun, ia menegaskan bahwa hal itu adalah bagian dari risiko yang harus ditanggung.
"Salah satu kewajiban pemimpin adalah siap untuk dihujat, difitnah, tapi tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat," tuturnya dengan nada tegas.
"Semua kita terima sebagai koreksi."
Artikel Terkait
Belatung di Piring Sekolah: Saat Negara Alergi Kritik, Rakyat Hanya Bisa Bersyukur
AHY Soroti Strategi Baru: Perbaikan Rumah Ringan Bisa Percepat Pengosongan Pengungsian
Somasi SBY ke Budhius M Piliang: Gosip Ijazah Jokowi yang Tak Kunjung Padam
Sanur Ramai Pengunjung, Keluarga Jember Pilih Pantai Ini untuk Rayakan Tahun Baru