MURIANETWORK.COM - Tidurnya jadi tak nyenyak. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku begitu, blak-blakan, setelah pemerintah memastikan target penerimaan pajak tahun depan bakal meleset. Pengakuan jujur itu bikin publik terperangah, sekaligus membuka tabir betapa peliknya tekanan fiskal yang sedang menghimpit.
Kekhawatiran pria yang akrab disapa Purbaya ini tentu punya dasar. Lihat saja datanya. Hingga Oktober 2025, realisasi penerimaan pajak baru nyampe di angka Rp1.459 triliun. Itu cuma 70,2 persen dari target outlook, dan yang lebih mengkhawatirkan, turun hampir 4 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Dengan tren seperti ini, proyeksi akhir tahun cuma sekitar Rp1.947 triliun. Padahal, target di APBN 2025 sudah ditetapkan Rp2.076,9 triliun. Artinya, ada kekurangan sekitar Rp57,8 triliun. Shortfall sebesar itu langsung bikin ruang gerak fiskal sempit dan beban pembiayaan defisit makin berat.
"Semalam saja saya enggak bisa tidur, uangnya masuk enggak ya? Defisitnya bisa melebar,"
Ucap Purbaya di Kementerian Keuangan, seperti dikutip dari sejumlah media akhir tahun lalu. Ungkapan itu menggambarkan betapa genting situasinya.
Tekanannya datang dari mana? Salah satunya ya dari aturan batas defisit maksimal 3 persen dari PDB itu. Hingga akhir November 2025, realisasi defisit sudah mencapai Rp560,3 triliun atau 2,35 persen PDB. Memang masih di zona aman, sih. Tapi dengan tren penerimaan pajak yang melemah, posisi APBN tahun depan bisa dibilang paling rentan dalam beberapa tahun terakhir.
Nah, di tengah situasi seperti ini, pemerintah memilih jalan yang menurut mereka lebih bijak. Daripada memaksakan pungutan pajak baru yang bisa makin membebani ekonomi yang lagi lesu, mereka memilih opsi lain.
“Ekonomi global belum stabil dan daya beli masyarakat masih turun. Tidak bijak menambah beban pajak baru. Yang penting APBN tetap aman,”
tegas Purbaya.
Jadi, langkah konkretnya apa? Mereka akan memperketat pengeluaran kementerian dan lembaga, mengawasi kas negara tiap hari, dan mencari sumber dana alternatif. Misalnya, dari dana yang nggak terserap di berbagai kementerian atau dari hasil penindakan hukum dan sitaan aset negara.
Sebenarnya, tekanan ini sudah terasa sejak awal tahun. Pemulihan ekonomi nasional yang belum benar-benar solid bikin pencapaian pajak ikut merosot. Beberapa sektor kunci, seperti perdagangan dan industri pengolahan, mengalami perlambatan. Kontribusi pajak dari korporasi pun mandek karena margin usaha mereka tergerus.
Belum lagi faktor eksternal. Melemahnya permintaan ekspor dan berbagai gejolak geopolitik global turut memukul penerimaan dari bea dan cukai. Alhasil, pemerintah pun terpaksa mengandalkan pembiayaan utang, tapi dengan sangat hati-hati, agar defisit tidak jebol batas.
Meski begitu, Purbaya berusaha menenangkan. Ia yakin defisit APBN 2025 masih bisa dikendalikan di bawah angka 3 persen. Syaratnya satu: pemerintah harus disiplin menekan belanja-belanja yang tidak benar-benar prioritas. Tantangannya sekarang adalah mewujudkan komitmen itu di tengah berbagai ketidakpastian yang masih membayangi.
Artikel Terkait
17 Februari dalam Catatan Sejarah: Dari Tsunami Maluku 1674 hingga Kelahiran Buya Hamka dan Michael Jordan
Rooney Ingatkan Risiko Euforia United Strands, Cunha Tegaskan Fokus Hanya pada Poin
Tyler Morton Ungkap Kurangnya Kepercayaan dari Arne Slot Sebabkan Hengkang ke Lyon
Persib Dikabarkan Intip Kiper Belanda Ronald Koeman Jr.